Sementara itu, U.S. Securities and Exchange Commission (SEC), Gedung Putih, dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) juga belum memberikan tanggapan terkait lonjakan transaksi menjelang pengumuman tersebut.
Meski sempat terkoreksi, harga minyak masih bertahan tinggi. Pasokan global yang terpangkas akibat konflik Timur Tengah membuat harga minyak tetap lebih dari 40 persen di atas level sebelum konflik meletus pada akhir Februari.
Volatilitas pasar pun melonjak tajam. Dalam tiga tahun sebelum konflik, rata-rata transaksi Brent hanya sekitar 300.000 lot per hari, namun dalam empat pekan terakhir volume harian menembus lebih dari 1 juta lot atau setara satu miliar barel minyak.
Saat ini, harga Brent berada di kisaran USD102 per barel seiring ketidakpastian yang masih membayangi pasar, kendati telah muncul sinyal negosiasi antara AS dan Iran. (Aldo Fernando)