sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Dua Jurus Investasi saat MSCI Perpanjang Review

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
24/04/2026 07:02 WIB
Periode peninjauan pasar (review) oleh MSCI yang diperpanjang hingga pertengahan 2026 dinilai menjadi fase transisi bagi pasar saham Indonesia.
Dua Jurus Investasi saat MSCI Perpanjang Review. (Foto: Freepik)
Dua Jurus Investasi saat MSCI Perpanjang Review. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Periode peninjauan pasar (review) oleh MSCI yang diperpanjang hingga pertengahan 2026 dinilai menjadi fase transisi bagi pasar saham Indonesia.

Di satu sisi, tekanan jangka pendek mulai terasa. Namun di sisi lain, fondasi pasar yang lebih sehat diyakini akan membuka peluang ke depan.

Analis Bahana Sekuritas, Raja Abdalla dan Jeremy Mikael, dalam riset yang terbit pada 22 April 2026, menyebut MSCI memperpanjang Market Accessibility Review Indonesia hingga Juni 2026.

Keputusan ini melanjutkan pembekuan yang telah diberlakukan sejak Januari, sekaligus mempertahankan bobot Indonesia dalam indeks global hingga semester I-2026.

Meski demikian, MSCI mengakui sejumlah reformasi yang telah dilakukan otoritas pasar, seperti peningkatan transparansi kepemilikan, perluasan klasifikasi investor, penerapan daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC), serta peta jalan free float minimum 15 persen.

Proses yang masih berjalan lebih bersifat administratif, karena MSCI masih membutuhkan waktu untuk menghimpun masukan pelaku pasar sebelum menerapkannya dalam metodologi indeks.

Ke depan, perubahan metodologi berpotensi membawa konsekuensi langsung.

Saham dengan status HSC akan dikeluarkan dari indeks, sementara pembaruan data kepemilikan berpotensi menurunkan rasio free float sejumlah emiten.

Bahana memperkirakan kombinasi dampak ini bisa menekan bobot Indonesia di MSCI hingga 16,8 persen atau sekitar 16 basis poin, yang setara dengan potensi arus keluar dana asing sekitar USD880 juta atau setara dengan Rp14,96 triliun.

“Dampaknya memang cenderung muncul lebih dulu, sementara manfaat reformasi baru akan terlihat kemudian,” tulis analis Bahana.

Dalam jangka panjang, reformasi ini dinilai akan menciptakan pasar yang lebih sehat, dengan free float yang lebih tinggi, risiko konsentrasi yang menurun, serta transparansi yang lebih baik bagi investor.

Di sisi lain, terdapat potensi penyeimbang dari sisi arus masuk dana. Jika hasil peninjauan Juni 2026 positif, MSCI berpeluang membuka kembali peluang inklusi saham baru pada Agustus 2026.

Bahana mengidentifikasi hingga empat emiten yang berpotensi masuk indeks, dengan estimasi arus masuk dana pasif (passive inflow) mencapai USD260 juta atau Rp4,42 triliun.

Namun, arus masuk ini bersifat kondisional dan belum tentu sepenuhnya mengimbangi potensi arus keluar.

“Dengan dasar itu, pipeline tersebut hanya menjadi penahan sebagian, bukan pelindung penuh terhadap dampak penyesuaian HSC dan free float, namun cukup untuk memperkecil arus keluar bersih (net outflow),” tulis laporan tersebut.

Dalam konteks ini, Bahana melihat dua pendekatan strategi bagi investor. Pertama, melirik saham murah (undervalued) di luar indeks MSCI yang dinilai belum terekspos tekanan reformasi pasar dan lebih digerakkan oleh fundamental.

Beberapa di antaranya adalah PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS).

CMRY diuntungkan oleh permintaan produk susu yang terdorong program Makan Bergizi Gratis (MBG) tanpa terpengaruh indeks, PGEO menangkap momentum kenaikan energi panas bumi seiring dorongan transisi energi.

Sementara BRIS menawarkan pertumbuhan mandiri yang tidak bergantung pada hasil MSCI.

Kedua, investor juga dapat memanfaatkan valuasi menarik pada saham-saham berkapitalisasi besar yang saat ini terdiskon akibat pembekuan indeks.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), misalnya, dinilai diperdagangkan pada valuasi terendah dalam beberapa tahun terakhir, meski fundamental bisnisnya tetap solid.

Bahana menilai kondisi saat ini bukanlah penutupan peluang, melainkan dislokasi pasar yang dapat dimanfaatkan.

“Peluang tetap terbuka bagi investor yang bersedia mengambil posisi lebih awal menjelang peninjauan berikutnya,” tulis analis. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement