sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Dukung Ekosistem AI, PGEO Siapkan Pasokan Listrik dari Panas Bumi untuk Data Center

Market news editor Rahmat Fiansyah
08/09/2026 09:28 WIB
PGEO menegaskan kesiapan energi panas bumi sebagai sumber listrik baseload EBT untuk menopang pertumbuhan data center dan ekosistem AI di Indonesia.
PGEO siap memasok panas bumi sebagai sumber listrik baseload EBT untuk menopang pertumbuhan data center dan ekosistem AI di Indonesia. (Foto: Ist)
PGEO siap memasok panas bumi sebagai sumber listrik baseload EBT untuk menopang pertumbuhan data center dan ekosistem AI di Indonesia. (Foto: Ist)

Guna mendorong optimalisasi pengembangan pusat data berbasis EBT, khususnya panas bumi, terdapat beberapa langkah kunci yang memerlukan dukungan penuh. Pertama, menyempurnakan regulasi tarif agar lebih kompetitif, transparan, dan dapat diprediksi. Kedua, memperluas pemanfaatan insentif fiskal dan green financing. Ketiga, memperkuat sinkronisasi WKP, RUPTL, jaringan, PPA, dan target COD. Keempat, menyesuaikan strategi dengan kebijakan pemerintah dalam cetak biru pengembangan pusat data sekaligus panas bumi nasional.

“Strategi tersebut perlu diselaraskan dengan kebijakan pemerintah dalam blueprint pengembangan data center sekaligus panas bumi nasional,” kata Ahmad Yani.

Inisiatif elektrifikasi green data center ini merupakan bagian dari strategi Beyond Electricity PGE. Strategi tersebut juga mencakup elektrifikasi green hydrogen, pemanfaatan langsung uap panas bumi, serta layanan teknologi dan laboratorium, dengan tujuan menciptakan permintaan baru bagi energi panas bumi sekaligus mempercepat pemanfaatan potensi yang selama ini belum terserap.

Dari sisi kapasitas, PGE menargetkan pertumbuhan secara bertahap menuju sekitar 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan sekitar 1,8 GW pada 2034, yang akan ditopang oleh portofolio sumber daya sekitar 3 GW. Pengembangan tersebut dioptimalkan melalui pipeline proyek yang jelas dan terukur.

Langkah pengembangan panas bumi ini juga sejalan dengan agenda swasembada energi pemerintah, termasuk alokasi 5,2 GW panas bumi dalam RUPTL. Hal ini sekaligus mendukung cita-cita Indonesia untuk menjadi produsen panas bumi terbesar di dunia pada 2030.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement