IDXChannel - PT Singaraja Putra Tbk (SINI) mencatat posisi ekuitas berbalik positif hingga Juli 2026. Kondisi ini merupakan dampak dari tuntasnya pelaksanaan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) alias rights issue pada akhir bulan lalu.
Dalam laporan keuangan per 31 Juli 2026, posisi ekuitas SINI tercatat sebesar Rp3,52 triliun, meningkat dibandingkan posisi pada Juni 2026 yang mengalami defisiensi modal Rp125 miliar dan Rp763 miliar pada akhir tahun 2025.
Kenaikan ekuitas tersebut berasal dari selesainya Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) perseroan pada 22 Juli 2026. Hal tersebut berdampak pada posisi Tambahan Modal Disetor yang mencapai Rp2,79 triliun.
Selain itu, kinerja positif SINI pada semester I-2026 turut mengerek saldo laba dari sebelumnya minus Rp763,5 miliar menjadi positif Rp601,4 miliar. Angka tersebut ditopang oleh laba bersih SINI yang mencapai Rp683 miliar yang berasal dari diskon atas akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti (KMS).
Dalam laporan laba rugi, SINI membukukan pendapatan sebesar Rp537,85 miliar hingga Juli 2026. Capaian ini bahkan melampaui pendapatan sepanjang tahun 2025 yang sebesar Rp534,02 miliar.
Sementara laba bruto mencapai Rp143,4 miliar dengan posis laba sebelum pajak Rp683,95 miliar akibat goodwill negatif dari KMS yang mencapai Rp662,72 miliar. Adapun laba bersih mencapai Rp679,7 miliar hingga Juli 2026.
Stockbit Sekuritas menyatakan, membaiknya kondisi permodalan SINI membuat emiten batu bara milik Happy Hapsoro tersebut berpeluang keluar dari papan pemantauan khusus. Saat ini, saham SINI berada di papan tersebut karena persoalan ekuitas yang negatif.
"Pembalikan posisi ekuitas ini berpotensi membuat SINI dihapus dari Papan Pemantauan Khusus, yang menggunakan mekanisme perdagangan full call auction (FCA), di mana saham perseroan masuk ke dalam papan tersebut sejak 12 Februari 2026 karena memiliki ekuitas negatif," kata Stockbit.
Sebagai informasi, SINI resmi menuntaskan proses rights issue dan memperoleh dana sebesar Rp3,61 triliun. Dalam aksi korporasi tersebut, perseroan menerbitkan 721,5 juta saham baru.
PT Autum Prima Indonesia (API) selaku pengendali SINI hanya menyerap sebagian haknya, sedangkan Batubara Development Pte Ltd (BBD) dan Hapsoro memilih tidak menggunakan haknya sama sekali. Dengan langkah itu, muncul tiga investor baru yakni PT Petrosea Tbk (PTRO) (19,88 persen), Hendrikus Yulidar Putra Karim (7,48 persen), dan PT Deli Indonesia Raya (7,48 persen), bagian dari BBD.
Harga saham SINI ditutup menguat 9,86 persen ke Rp8.075 di papan pemantauan khusus. Nilai kapitalisasi pasar perseroan saat ini mencapai Rp9,71 triliun.
(Rahmat Fiansyah)