Penurunan harga tersebut terjadi setelah berakhirnya periode lebaran, melemahnya permintaan selama bulan Suro, serta gangguan operasional dalam pelaksanaan program MBG.
Tekanan tersebut tercermin pada kinerja CPIN. Laba inti perseroan turun sekitar 60 persen secara kuartalan pada 2Q26.
Bahana memperkirakan JPFA juga mengalami tekanan serupa pada bisnis poultry, meski bisnis pakan ternaknya diperkirakan tetap relatif kuat berkat model bisnis cost-plus.
Namun, tekanan pada kuartal II dinilai bersifat sementara. Bahana memperkirakan laba inti CPIN dan JPFA dapat melonjak setidaknya sekitar 60 persen secara kuartalan pada kuartal III-2026 (3Q26), seiring pemulihan harga LB.
Proyeksi tersebut telah memperhitungkan potensi kenaikan biaya pakan akibat risiko El Niño terhadap harga jagung serta rencana pengadaan soybean meal (SBM) secara terpusat melalui Berdikari dengan asumsi margin 10 persen.