sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Erablue hingga XPENG Jadi Mesin Baru ERAA, Intip Target Terbaru

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
11/09/2026 10:29 WIB
PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) dinilai memiliki ruang pertumbuhan yang semakin luas di luar bisnis smartphone.
Erablue hingga XPENG Jadi Mesin Baru ERAA, Intip Target Terbaru. (Foto: Erajaya)
Erablue hingga XPENG Jadi Mesin Baru ERAA, Intip Target Terbaru. (Foto: Erajaya)

IDXChannel – PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) dinilai memiliki ruang pertumbuhan yang semakin luas di luar bisnis smartphone. Sejumlah bisnis baru, mulai dari Erablue, Sinar Eka Selaras (ERAL) hingga kendaraan listrik XPENG, mulai menunjukkan kontribusi yang menjanjikan.

Analis UOB Kay Hian Willinoy Sitorus dan Andrew Agita Buntoro, CFA, dalam riset yang terbit 4 September 2026, menilai kemampuan ERAA membangun bisnis konsumen baru menjadi salah satu katalis penting bagi pertumbuhan perseroan ke depan.

Salah satu yang paling menonjol adalah Erablue, bisnis ritel peralatan rumah tangga dan elektronik konsumen ERAA. Hingga Juli 2026, Erablue mencatat pertumbuhan penjualan toko yang sama (same-store sales growth/SSSG) sebesar 15,9 persen.

Sementara itu, pendapatan Erablue melonjak 89 persen secara tahunan pada semester I-2026. Jaringan gerainya juga berkembang pesat menjadi 283 toko pada Juli 2026, bertambah 102 toko sejak awal tahun.

Menurut analis, kombinasi ekspansi jaringan yang agresif dan pertumbuhan SSSG yang solid membuat Erablue memiliki prospek pertumbuhan yang kuat.

Bisnis tersebut sekaligus memperluas eksposur ERAA dari bisnis tradisionalnya yang selama ini bertumpu pada smartphone.

ERAA juga dinilai memiliki rekam jejak dalam membangun bisnis konsumen baru. ERAL, misalnya, mencatat SSSG sebesar 7,7 persen pada tujuh bulan pertama 2026, ditopang kinerja Urban Republic, DJI, dan JD Sports.

Kehadiran Levi's juga dinilai memberikan ruang ekspansi tambahan bagi segmen tersebut.

Di bisnis otomotif, XPENG juga menunjukkan perkembangan yang cepat. Merek kendaraan listrik asal China itu telah membukukan penjualan 1.682 unit dalam tujuh bulan pertama 2026, atau sekitar setahun sejak memasuki pasar Indonesia.

Penjualan bulanan XPENG bahkan telah melampaui BYD. Kehadiran model Mona L03 dan GX yang dijadwalkan memperluas pilihan produk pada tahun depan dinilai dapat memperbesar pasar yang dapat digarap XPENG, terutama karena Mona menyasar segmen harga yang lebih rendah.

Analis menilai perkembangan XPENG menjadi bukti lain bahwa ERAA mampu memperbesar skala merek baru dengan relatif cepat. Perseroan juga masih memiliki opsi pertumbuhan dari bisnis makanan dan minuman melalui konsep Oriental Kopi dan I'm Donut.

Di tengah ekspansi bisnis baru tersebut, permintaan smartphone ERAA mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah mengalami perlambatan.

SSSG ERAA pada Juli 2026 membaik menjadi negatif 8,6 persen secara tahunan dari negatif 11,6 persen pada Juni. Manajemen memperkirakan pertumbuhan penjualan toko yang sama pada Agustus-September 2026 masih moderat sebelum peluncuran produk-produk baru.

Analis memperkirakan siklus produk baru dapat menopang penjualan pada kuartal IV 2026, dengan dampaknya berpotensi berlanjut hingga 2027.

Keterbatasan pasokan iPhone 18 akibat kekurangan memori global dinilai lebih sebagai persoalan waktu, karena permintaan yang tertunda berpotensi kembali ketika pasokan membaik.

Di sisi lain, ERAA kembali menjalankan program pembelian kembali saham (buyback). Perseroan sebelumnya telah menyelesaikan buyback senilai Rp100 miliar yang berlangsung Juni hingga September 2026 dengan akumulasi 236,3 juta saham.

Dengan demikian, total saham yang telah dibeli kembali melalui dua program ERAA pada 2026 mencapai 601,6 juta saham.

ERAA kemudian meluncurkan program buyback baru hingga Rp500 miliar pada 4 September hingga 4 Desember 2026. Dengan nilai tersebut, perseroan berpotensi membeli hingga 797,5 juta saham atau sekitar 5 persen dari saham beredar.

Program tersebut akan dibiayai menggunakan kas internal, sementara perseroan tetap mempertahankan likuiditas yang memadai untuk kebutuhan operasional dan ekspansi.

Target Harga Naik

Melihat prospek tersebut, UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi beli untuk saham ERAA sekaligus menaikkan target harga menjadi Rp800 dari sebelumnya Rp450.

Target tersebut menggunakan valuasi 7,9 kali price-to-earnings (PE) 2027F, atau sekitar 0,5 standar deviasi di atas rata-rata lima tahun.

Menurut analis, multiple tersebut masih sejalan dengan kisaran perdagangan ERAA sebelum mengalami penurunan valuasi baru-baru ini.

Dengan demikian, kenaikan target harga dinilai tidak semata-mata berasal dari asumsi valuasi yang lebih agresif, tetapi juga mencerminkan revisi naik terhadap prospek laba.

Analis memperkirakan ERAA semakin mendapat manfaat dari ekspansi gerai yang rampung pada 2026, termasuk Erablue, Chagee, dan sejumlah konsep bisnis baru lainnya.

Pertumbuhan Erablue serta kontribusi yang semakin besar dari bisnis-bisnis baru tersebut diperkirakan menjadi pendorong pertumbuhan laba sekaligus membuka peluang re-rating terhadap saham ERAA.

Sejalan dengan pandangan tersebut, UOB Kay Hian juga merevisi naik estimasi laba ERAA untuk mencerminkan prospek manajemen serta kontribusi yang lebih kuat dari ekspansi bisnis perseroan. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement