Secara keseluruhan, dinamika ini menunjukkan bahwa ketahanan pertumbuhan di tengah pelemahan daya beli tidak hanya ditentukan oleh kondisi pasar, tetapi juga oleh strategi perusahaan dalam mengelola segmentasi, relevansi produk, serta adaptasi model bisnis terhadap perubahan perilaku konsumen.
Terpisah, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai ketahanan kinerja ERAA di tengah tantangan tersebut tidak terlepas dari karakteristik segmen pasar yang disasar.
“Kinerja ritel yang tetap tumbuh signifikan menunjukkan bahwa segmen menengah ke atas masih kuat saat daya beli melemah, karena daya tahan mereka lebih stabil dan tidak terlalu sensitif terhadap tekanan inflasi. Namun, ini bukan satu-satunya faktor, eksekusi produk dan distribusi tetap dominan,” ujarnya.
Selain segmentasi, Reydi juga menyoroti perubahan karakteristik produk sebagai faktor penopang permintaan. Menurutnya, pergeseran smartphone menjadi kebutuhan esensial membuat permintaan cenderung lebih stabil dibandingkan produk konsumsi lainnya.
“Perubahan smartphone menjadi kebutuhan esensial membuat demand lebih stabil. Selain itu, perusahaan juga lebih fokus ke after sales service, bundling atau apapun yang bukan sekadar jualan unit saja,” kata dia.
Menurutnya, diversifikasi usaha dapat menjadi penopang pertumbuhan, selama tetap dijalankan secara terarah.
“Diversifikasi bisnis merupakan penopang penting, namun harus tetap relevan dengan bisnis inti, bukan sekadar ekspansi oportunistik, karena tentunya akan mengganggu image branding produk yang sebelumnya sudah kuat,” ujar dia.
(Dhera Arizona)