sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Free Float Melonjak Jadi 25,7 persen Perkuat Daya Tarik Saham TPIA

Market news editor Taufan Sukma Abdi Putra
16/06/2026 10:54 WIB
langkah rebalancing yang dilakukan SCGC tidak mengubah tata kelola, manajemen, maupun arah strategis Perseroan.
Free Float Melonjak Jadi 25,7 persen Perkuat Daya Tarik Saham TPIA (foto: iNews Media Group)
Free Float Melonjak Jadi 25,7 persen Perkuat Daya Tarik Saham TPIA (foto: iNews Media Group)

IDXChannel - PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengonfirmasi telah bertambahnya peningkatan porsi saham publik (free float) dalam struktur kepemilikan Perseroan menjadi 25,7 persen.

Peningkatan tersebut terjadi setelah SCG Chemicals Public Company Limited (SCGC) melakukan penyesuaian kepemilikan saham sebagai bagian dari strategi deleveraging perusahaan induknya. 

Fakta peningkatan ini dinilai menjadi katalis positif yang memperkuat daya tarik emiten petrokimia tersebut di mata pelaku pasar, baik investor lokal dan juga global.

Di lain pihak, meningkatnya porsi free float juga diyakini tidak akan mengganggu struktur pengendalian TPIA, yang dapat dipastikan tetap kuat karena tiga pemegang saham utama, yaitu Barito Pacific, SCGC, dan Thai Oil, masih menguasai sekitar 74,3 persen saham Perseroan.

"Peningkatan free float tidak hanya membuat TPIA melampaui ketentuan minimum di BEI (Bursa Efek Indonesia), namun juga meningkatkan likuiditas saham, sehingga lebih menarik lagi bagi investor institusi global yang selama ini mempertimbangkan aspek ketersediaan saham publik dalam proses investasi," ujar Analis Verdhana Sekuritas, Nizam Syafik, dalam keterangan resminya, Selasa (16/6/2026).

Menurut Nizam, langkah rebalancing yang dilakukan SCGC tidak mengubah tata kelola, manajemen, maupun arah strategis Perseroan. Dalam hal ini, TPIA tetap menjalankan agenda pertumbuhan yang telah dirancang di sektor energi, kimia, dan infrastruktur.

Di luar peningkatan free float, Nizam menilai kekuatan utama TPIA saat ini terletak pada transformasi fundamental bisnis yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

Perseroan yang sebelumnya dikenal sebagai emiten petrokimia yang sangat bergantung pada siklus margin industri, kini telah bertransformasi menjadi platform bisnis terintegrasi yang mencakup energi, kimia, dan infrastruktur.

Dalam tiga tahun terakhir, TPIA berkembang dari aset single cracker senilai sekitar USD1,8 miliar menjadi platform bisnis dengan potensi pendapatan mencapai USD7 miliar hingga USD10 miliar.

Transformasi tersebut dipercepat melalui akuisisi Shell Energy and Chemicals Park Singapore (SECP) yang kini beroperasi dengan nama Aster.

Akuisisi yang rampung pada 2025 itu menghadirkan aset kilang berkapasitas 237 ribu barel per hari dan fasilitas cracker etilena berkapasitas 1,1 juta ton per tahun.

Kehadiran Aster secara signifikan mengubah struktur pendapatan perusahaan, di mana segmen energi kini menjadi kontributor terbesar dengan porsi mencapai 55 persen terhadap pendapatan kuartal I/2026.

Menurut Nizam, strategi diversifikasi tersebut menjadi langkah yang tepat di tengah tekanan berkepanjangan yang dialami industri petrokimia global akibat kelebihan kapasitas produksi di China.

Dengan masuknya bisnis energi ke dalam portofolio perusahaan, TPIA tidak lagi sepenuhnya bergantung pada siklus margin petrokimia yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami tekanan.

Diversifikasi ini menciptakan sumber pendapatan baru yang lebih beragam sekaligus meningkatkan ketahanan bisnis perusahaan terhadap volatilitas industri.

Kinerja keuangan Perseroan pun mulai mencerminkan hasil dari transformasi tersebut. Pada kuartal pertama 2026, TPIA membukukan laba operasional (EBIT) tertinggi sepanjang sejarah sebesar USD468 juta dan laba bersih mencapai USD205 juta.

Segmen energi menjadi penyumbang terbesar dengan EBIT sebesar USD556 juta, ditopang oleh tingginya margin pengilangan di Singapura yang sempat mencapai sekitar USD30 per barel di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah.

Nizam menilai investasi Aster berpotensi menghasilkan pengembalian yang lebih cepat dari perkiraan sekaligus memperbaiki struktur utang Perseroan.

Selain memberikan kontribusi terhadap profitabilitas, akuisisi Aster juga memperkuat neraca keuangan TPIA melalui pencatatan keuntungan akuisisi (bargain purchase gain) sekitar USD1,7 miliar.

Penguatan ekuitas tersebut menciptakan ruang pendanaan yang lebih besar bagi perusahaan untuk melanjutkan berbagai proyek ekspansi strategis di masa mendatang.

Strategi pertumbuhan TPIA juga terus berlanjut melalui pengembangan proyek Chlor-Alkali Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon dengan nilai investasi sekitar USD800 juta bersama Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA).

Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dengan kapasitas produksi 400 ribu ton soda kaustik padat dan 500 ribu ton EDC per tahun.

Produk soda kaustik akan menyasar kebutuhan industri domestik seperti deterjen, alumina, dan pengolahan nikel, sementara EDC ditujukan untuk pasar ekspor sebagai bahan baku industri PVC.

Di sisi lain, Perseroan juga memperkuat integrasi rantai bisnis melalui akuisisi jaringan ritel bahan bakar Esso di Singapura. 
Langkah tersebut memungkinkan TPIA mengintegrasikan bisnis dari sektor pengilangan, petrokimia hingga distribusi ritel, sehingga mampu menangkap nilai tambah di sepanjang rantai pasok.

Pilar ketiga dalam transformasi perusahaan adalah bisnis infrastruktur yang dijalankan melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA). 
Unit usaha ini mengembangkan layanan energi, kepelabuhanan, penyimpanan, logistik, dan air industri yang mendukung operasional grup sekaligus melayani pelanggan pihak ketiga.

Ke depan, CDIA akan memainkan peran penting dalam mendukung kebutuhan utilitas berbagai proyek ekspansi TPIA, termasuk proyek CA-EDC di Cilegon.

Dengan kombinasi peningkatan free float, diversifikasi sumber pendapatan, penguatan neraca keuangan, serta ekspansi yang terintegrasi dari energi, kimia hingga infrastruktur, Nizam menilai TPIA kini telah bertransformasi menjadi perusahaan energi dan kimia terintegrasi dengan profil bisnis yang jauh lebih kuat dibandingkan beberapa tahun lalu.

Dalam konteks tersebut, peningkatan free float menjadi 25,7 persen bukan hanya memperluas akses investor terhadap saham perseroan, namun juga memperkuat relevansi TPIA sebagai salah satu emiten industri strategis yang tengah menjalani fase pertumbuhan baru.

(taufan sukma)

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement