CGSI menilai level kas 6,2 persen tersebut serupa dengan kondisi pada kuartal IV-2025, ketika pasar mengalami euforia menjelang peringatan MSCI pada Januari 2026.
“Dengan posisi kas yang semakin menipis, kenaikan IHSG berikutnya kemungkinan akan lebih bergantung pada masuknya dana asing,” tulis CGSI.
Masalahnya, minat investor asing terhadap saham Indonesia masih rendah.
Bobot Indonesia dalam MSCI APAC ex Japan telah turun dari 1,2 persen pada Desember 2025 menjadi hanya 0,5 persen pada Agustus 2026.
Bobot tersebut setara dengan sekitar 51 persen bobot Thailand, 50 persen Malaysia, dan hanya 14 persen Singapura.
CGSI menyebut kondisi tersebut membuat investor asing membutuhkan tingkat keyakinan yang lebih tinggi untuk kembali masuk ke pasar Indonesia.