Selain itu, GPSO berencana melakukan Penambahan Modal Tanpa Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau rights issue sebanyak 66,67 juta saham baru atau setara 10 persen dari modal disetor. Seluruh dana hasil aksi korporasi ini akan dialokasikan untuk membiayai sebagian pembelian aset JIC. Langkah ini diharapkan memperkuat struktur permodalan dan meningkatkan likuiditas saham di bursa.
Berdasarkan kajian studi kelayakan, rencana transformasi ini menunjukkan indikator keuangan yang sangat positif di mana Internal Rate of Return (IRR) berada di level 34,77 persen, jauh di atas tingkat diskonto 14,00 persen. Sementara itu, Net Present Value (NPV) bernilai positif sebesar Rp86,63 miliar dengan payback period alias pengembalian investasi dalam waktu 5 tahun 1 bulan.
Keputusan penting ini akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 2 Juni 2026. Mengingat transaksi ini bersifat material dan terafiliasi, persetujuan dari pemegang saham independen menjadi kunci utama pelaksanaan transformasi ini.
Sinergi dengan Tjokro Group yang memiliki pengalaman lebih dari 57 tahun di industri mekanikal memberikan GPSO "tiket masuk" yang kuat ke pasar OEM otomotif dan alat berat. Jika rencana ini berjalan mulus, GPSO tidak lagi hanya menjadi trader, melainkan produsen dengan nilai tambah tinggi, yang berpotensi meningkatkan kinerja fundamental perseroan dalam jangka panjang.
(Rahmat Fiansyah)