sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Geliat Saham Bank Besar di Tengah Akumulasi Asing

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
16/01/2026 12:55 WIB
Saham bank-bank besar menghijau pada perdagangan Kamis (15/1/2026), didorong aksi beli investor asing yang melanjutkan momentum positif dalam sepekan terakhir.
Geliat Saham Bank Besar di Tengah Akumulasi Asing. (Foto: Freepik)
Geliat Saham Bank Besar di Tengah Akumulasi Asing. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Saham bank-bank besar menghijau pada perdagangan Kamis (15/1/2026), didorong aksi beli investor asing yang melanjutkan momentum positif dalam sepekan terakhir.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melesat 4,13 persen dalam sehari ke level Rp4.540 per unit pada Kamis. Secara mingguan, saham BBNI mencatatkan kenaikan 7,84 persen.

Sejalan dengan pergerakan saham BBNI, investor asing membukukan beli bersih (net buy) sebesar Rp45,50 miliar di pasar reguler pada Kamis, dengan akumulasi net buy Rp235,56 miliar sepanjang sepekan terakhir.

Sementara itu, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) naik 3,10 persen ke Rp4.990 per unit pada Kamis, dengan penguatan mingguan mencapai 3,74 persen.

Investor asing mencatatkan net buy Rp208,75 miliar pada perdagangan Kamis, terbesar ketiga secara harian.

Namun demikian, secara kumulatif dalam sepekan, asing masih membukukan jual bersih (net sell) Rp60,60 miliar di saham BMRI.

Setali tiga uang, saham bank pelat merah lainnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), menguat 2,69 persen ke Rp3.820 per unit pada Kamis, yang mengimplikasikan kenaikan mingguan 2,96 persen.

Investor asing mencatatkan beli bersih Rp426,65 miliar dalam sehari pada Kamis, terbesar di antara emiten lainnya. Secara mingguan, akumulasi net buy asing di BBRI mencapai Rp570,62 miliar.

Kemudian, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan kenaikan paling terbatas di antara bank-bank besar lainnya, yakni 0,94 persen ke Rp8.075 per unit pada Kamis. Dalam sepekan, saham BBCA hanya naik 0,31 persen.

Pergerakan tersebut terjadi di tengah aksi jual bersih investor asing sebesar Rp56,62 miliar pada Kamis, dengan akumulasi net sell Rp498,38 miliar sepanjang sepekan terakhir.

Prospek Perbankan di 2026

BRI Danareksa Sekuritas menilai prospek sektor perbankan pada 2026 masih cenderung moderat.

Dalam riset terbarunya, Kamis (15/1/2026), laba perbankan diproyeksikan tumbuh sekitar 5 persen secara tahunan (YoY), namun masih berada di bawah ekspektasi konsensus pasar.

BRI Danareksa mencatat pertumbuhan kredit berpotensi menguat hingga kisaran 11 persen, terutama ditopang oleh segmen wholesale.

Meski demikian, ruang perbaikan margin dinilai terbatas karena tekanan kompetisi yang ketat serta penyesuaian imbal hasil aset, yang membuat net interest margin (NIM) tetap tertekan.

Dari sisi kualitas aset, risiko dinilai belum sepenuhnya mereda. Potensi kenaikan kredit bermasalah (NPL) masih membayangi, khususnya pada segmen konsumer dan UMKM.

Sementara itu, kondisi likuiditas perbankan mulai membaik seiring biaya dana (cost of fund/CoF) yang cenderung menurun, meski belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan margin secara signifikan.

Dengan berbagai faktor tersebut, BRI Danareksa mempertahankan rating netral untuk sektor perbankan.

Saham yang menjadi pilihan utama adalah BBCA dan PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), yang dinilai memiliki profil laba dan kualitas aset relatif lebih aman dibandingkan emiten sejenis.

Sementara, CGS International memandang sektor perbankan Indonesia berpeluang mencatatkan kinerja positif pada 2026.

Dalam riset terbarunya, dikutip Dow Jones Newswires pada 8 januari 2026, analis CGS International menilai permintaan kredit dari pelaku usaha berpotensi membaik seiring meningkatnya belanja pemerintah serta kejelasan arah kebijakan.

CGS International mencatat biaya dana perbankan bulanan telah menunjukkan perbaikan sejak September 2025. Kondisi ini dinilai menjadi fondasi yang solid bagi kinerja perbankan ke depan, terutama dalam menopang penyaluran kredit.

Dengan prospek tersebut, CGS International mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perbankan Indonesia, didorong oleh outlook permintaan kredit yang positif dan tren penurunan biaya dana.

Saham pilihan utama CGS di sektor ini adalah BMRI dan BBCA, yang dinilai unggul berkat kekuatan dan keahlian di segmen perbankan wholesale. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement