Dengan langkah ekspansi bersama Singaraja Putra, Perseroan berharap mampu meningkatkan kapasitas produksi grup secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
"Dengan ekspansi yang ada, kami proyeksikan akan mampu meningkatkan produksi secara bertahap hingga melampaui 30 juta ton per tahun sampai 2031 nanti. Hal ini akan berpotensi menempatkan grup menjadi salah satu produsen batu bara enam besar di Indonesia berdasarkan volume produksi tahunan," ujar Michael.
Nilai strategis transaksi tersebut, dikatakan Michael, tidak hanya terletak pada tambahan cadangan dan peningkatan produksi, namun juga memperkuat model bisnis terintegrasi Petrindo yang menggabungkan kepemilikan sumber daya, kemampuan operasional Petrosea, serta infrastruktur logistik yang mampu menangani volume besar per tahun.
Melalui model bisnis tersebut, peningkatan produksi dinilai akan berdampak langsung terhadap utilisasi jalan tambang, pelabuhan, dan fasilitas logistik yang dimiliki maupun dikelola grup.
Sinergi antara aset tambang dan infrastruktur logistik itu disebut menjadi salah satu faktor utama dalam menciptakan nilai tambah di seluruh rantai bisnis pertambangan Perseroan.