sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Geopolitik hingga Suku Bunga The Fed Bayangi Pergerakan Emas, Minyak, dan Logam Mulia Pekan Depan

Market news editor Anggie Ariesta
05/09/2026 20:08 WIB
Pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (USD), minyak mentah, emas dunia, hingga logam mulia Antam diproyeksikan bergerak fluktuatif pada pekan depan.
Geopolitik hingga Suku Bunga The Fed Bayangi Pergerakan Emas, Minyak, dan Logam Mulia Pekan Depan. (Foto Istimewa)
Geopolitik hingga Suku Bunga The Fed Bayangi Pergerakan Emas, Minyak, dan Logam Mulia Pekan Depan. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (USD), minyak mentah, emas dunia, hingga logam mulia Antam diproyeksikan bergerak fluktuatif pada pekan depan.

Ketegangan geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah dan Eropa Timur serta intervensi politik terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed, menjadi pemicu utamanya.

Analis Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan indeks dolar AS (USD Index) bergerak di rentang USD 98,30 hingga USD100,20.

“Jadi ada indikasi bahwa indeks dolar ini akan menuju level 100 (USD),” ujar dia dalam analisisnya, Sabtu (5/9/2026). 

Sementara itu, harga minyak mentah jenis WTI diperkirakan bergerak pada kisaran rentang batas bawah (support) USD82,50 dan batas atas (resist) USD98,70.

"Harga minyak mentah WTI crude oil ini masih akan terus mendidih ya mendekati level 99," kata Ibrahim. 

Untuk emas dunia, Ibrahim mengatakan bahwa level support pertama berada di USD4.393 per troy ons dan support kedua di USD4.276 per troy ons.

Adapun area resist pertama dipatok pada USD4.518 per troy ons dan resist kedua di USD4.668 per troy ons.

Secara keseluruhan, pergerakan emas dunia sepekan ke depan diproyeksikan berada di rentang USD4.276 hingga USD4.668 per troy ons.

Sementara itu, untuk harga Logam Mulia Antam domestik, Ibrahim memproyeksikan pergerakan sepekan berada di kisaran Rp2.500.000 hingga Rp2.754.000 per gram.

“Jadi untuk logam mulia dalam sepekan ke depan itu kemungkinan ditransaksikan di Rp2.500.000 per gram sampai di Rp2.754.000 per gram, ada selisih Rp254.000 per gram," ujarnya.

Fluktuasi harga komoditas global ini dipengaruhi oleh ekskalasi konflik militer di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran yang terus meluas hingga memicu lonjakan harga BBM/gasolin di AS ke rata-rata USD5,85 per galon. Kondisi ini memperbesar tekanan inflasi.

Selain itu, konflik Rusia-Ukraina yang melibatkan pihak NATO di Eropa Timur juga diprediksi masih berlangsung panjang.

Di sisi lain, dinamika perpolitikan internal AS memanas seiring langkah Presiden Donald Trump yang melakukan intervensi terhadap bank sentral AS agar bersedia menurunkan suku bunga. Padahal, data tenaga kerja AS terbaru tercatat melonjak hingga tiga kali lipat.

"Laporan tenaga kerja ya di Amerika itu cukup bagus ya tiga kali lipat kenaikannya dan ini mengindikasikan bahwa bank sentral AS kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga 25 basis poin. Hampir 58 persen ya para ekonom di Amerika ada kemungkinan besar di 16 September ya bank sentral AS itu akan menaikkan suku bunga 25 basis poin," kata Ibrahim.

Ibrahim menambahkan, pertentangan antara dorongan intervensi pemerintah AS dan independensi bank sentral tersebut menjadi sentimen utama yang akan terus memicu fluktuasi harga komoditas dan pasar keuangan global dalam waktu dekat.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement