sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

GMF Aero Asia (GMFI) Targetkan Laba Bersih USD4,47 Juta di 2026

Market news editor Iqbal Dwi Purnama
10/06/2026 12:13 WIB
GMFI membidik laba bersih sebesar USD4,47 juta pada 2026. Sementara itu, pendapatan sebesar USD542,79 juta, tumbuh 10,4 persen dibanding tahun lalu.
GMF Aero Asia (GMFI) Targetkan Laba Bersih USD4,47 Juta di 2026. (Foto: iNews Media Group)
GMF Aero Asia (GMFI) Targetkan Laba Bersih USD4,47 Juta di 2026. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) menargetkan kinerja yang terus tumbuh pada tahun ini. Perseroan membidik laba bersih sebesar USD4,47 juta pada 2026.

Sementara itu, pendapatan sebesar USD542,79 juta pada 2026 atau tumbuh 10,4 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai USD491,8 juta.

"Tahun 2026 kami menargetkan pendapatan mencapai USD542,79 juta, EBITDA sebesar USD81,82 juta, dan laba bersih sebesar USD4,47 juta," ujar Direktur Keuangan GMF Tri Hartono dalam Public Expose Live 2026, Rabu (10/6/2026).

Tri mengatakan perseroan memasuki 2026 dengan fondasi bisnis dan keuangan yang lebih kuat lewat 5 inisiatif strategis utama yang akan menjadi penopang pertumbuhan perseroan pada tahun ini dan beberapa tahun mendatang.

Ia menjelaskan beberapa inisiatif yang akan menjadi kontributor pertumbuhan perseroan misalnya pemanfaatan hanggar Pondok Cabe, yang akan meningkatkan kapasitas maintenance pesawat narrow-body dan turbo prop untuk memenuhi permintaan pasar domestik yang terus meningkat.

"Pada Juni ini hanggar Pondok Cabe milik GMF sudah beroperasi," kata Tri.

Selain itu, perseroan memanfaatkan pasar Timur Tengah melalui fasilitas hanggar yang dioperasikan bersama mitra lokal. Inisiatif ini diperkirakan menghasilkan pendapatan sekitar USD16 juta tahun ini dengan potensi pertumbuhan 2,5 hingga 3,5 kali lipat dalam 3 tahun ke depan. Hanggar ini dalam waktu dekat akan mulai beroperasi.

Selanjutnya, GMF mengembangkan Aerospace Park bersama Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati yang ditujukan untuk menjadi ekosistem Defense MRO terbesar di Indonesia. Segmen defense MRO ini diperkirakan menyumbang 10 persen dari revenue perseroan atau sekitar USD50 juta per tahun.

"Jadi plan-nya adalah bisnis Government and Defense MRO milik GMF akan beroperasi di Kertajati," kata Tri.

Ia menambahkan, pihaknya juga tengah melakukan langkah diversifikasi menuju industri manufaktur aerospace yang mendukung ekosistem industri nasional dan industri aviation global. Inisiatif terakhir untuk mendorong pertumbuhan perseroan yaitu ekspansi kapasitas hanggar di Cengkareng.

"Jadi di GMF nanti terbagi segmennya di Cengkareng fokus untuk jet komersial, di Pondok Cabe untuk turbo prop, dan di Kertajati ke depannya untuk defense baik fixed wing maupun rotary wing," tambah Tri.

Sepanjang 2025, GMF membukukan pendapatan sebesar USD491,8 juta atau mencapai 109,65 persen dari target perusahaan. EBITDA tercatat sebesar USD80,24 juta atau sekitar 108 persen dari target, sementara laba bersih meningkat menjadi USD33,96 juta dari USD22,65 juta pada 2024.

Perseroan juga mencatatkan awal tahun yang positif. Hingga kuartal I-2026, GMF membukukan pendapatan sebesar USD114,94 juta atau tumbuh 20,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh meningkatnya aktivitas perawatan pada segmen penerbangan komersial.

Dari sisi profitabilitas, EBITDA GMF mencapai USD17,56 juta dan melampaui target kuartalan yang telah ditetapkan. Sementara itu, laba bersih melonjak 178,36 persen menjadi USD6,76 juta dibandingkan USD3,79 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Menurut Tri, pencapaian tersebut menunjukkan kemampuan perseroan dalam mengonversi pertumbuhan bisnis menjadi peningkatan profitabilitas yang lebih kuat melalui efisiensi operasional dan disiplin pengelolaan biaya.

Saat ini, segmen commercial aviation masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi 75,4 persen terhadap total pendapatan perusahaan. Namun, GMF terus memperkuat kontribusi dari pelanggan non-group affiliated dan sektor government sebagai bagian dari strategi diversifikasi pendapatan.

Direktur Utama GMF Andi Fahrurrozi mengatakan prospek industri MRO masih sangat menjanjikan seiring pertumbuhan armada penerbangan nasional dan global.

Indonesia diproyeksikan menjadi pasar penerbangan terbesar keempat di dunia pada 2030, sementara armada pesawat nasional diperkirakan meningkat dari sekitar 600 unit saat ini menjadi 974 unit pada 2034. Kondisi tersebut diyakini akan mendorong kebutuhan layanan perawatan pesawat dalam jangka panjang.

"Dengan fundamental operasional yang semakin baik, strategi diversifikasi yang jelas, ekspansi bisnis yang terukur, serta pengelolaan risiko yang disiplin, kami percaya GMF memiliki pondasi yang kuat untuk menciptakan pertumbuhan berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham," tambah Andi.

(Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement