Sejak mencapai titik terendah pada April, pasar saham pulih tajam. Indeks utama Wall Street melonjak hampir 45 persen dari level terendah, didorong data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan, meredanya kekhawatiran tarif, serta lonjakan laba perusahaan, khususnya di sektor teknologi berkapitalisasi besar.
Saham-saham siklikal pun tampil mengungguli saham defensif seiring membaiknya prospek pertumbuhan.
Goldman Sachs menilai penguatan pasar saham tidak hanya terpusat di Negeri Paman Sam. Sepanjang 2025, sebagian besar pasar saham global justru membukukan kinerja lebih baik dibanding AS.
Secara dolar AS, pasar Eropa, China, dan Asia mencatat imbal hasil hampir dua kali lipat dibandingkan Wall Street, menandai manfaat nyata dari diversifikasi geografis.
Sejumlah pasar mencatat lonjakan signifikan, seperti Italia, Spanyol, dan Korea Selatan, sementara pasar negara berkembang mulai menunjukkan penguatan berkelanjutan.