"Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya. Karena itu, kami tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun. Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-Demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar," ujarnya.
Hingga Juni 2026, segmen On-Demand Services melalui Gojek mencatat EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp903 miliar, tumbuh 41 persen. GTV inti naik 3 persen menjadi Rp33 triliun dan margin segmen Delivery naik dari 1,8 persen menjadi 2,1 persen, ditopang oleh pelanggan affluent dengan jumlah pengguna berbelanja tinggi meningkat 21 persen.
Sementara itu untuk segmen Fintech melalui Gopay mencatat EBITDA yang disesuaikan Rp845 miliar, melesat 526 persen. GTV inti tumbuh 82 persen menjadi Rp287,96 miliar dengan kualitas pinjaman tetap terjaga dengan tunggakan dan non-performing loan (NPL) yang stabil.
Hans menambahkan GoTo juga terus berinvestasi untuk mendukung mitra pengemudi melalui perluasan Program Apresiasi Mitra, mulai dari BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, beasiswa hingga program umrah gratis.
"Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo," katanya.