Perbaikan persepsi risiko terhadap Indonesia juga terlihat dari turunnya imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun serta menguatnya ETF Indonesia (EIDO) yang diperdagangkan di Amerika Serikat.
Bagi Indonesia yang masih berstatus sebagai net importir minyak, penurunan harga energi global dinilai memberikan keuntungan ganda. Selain membantu menjaga stabilitas fiskal, kondisi tersebut juga berpotensi memperbaiki prospek makroekonomi nasional.
Di sisi lain, pasar saham domestik turut memperoleh dukungan dari tren positif harga sejumlah komoditas logam seperti emas, perak, tembaga, nikel, dan timah. Kenaikan harga komoditas tersebut menjadi katalis bagi emiten-emiten pertambangan mineral yang memiliki bobot cukup besar di pasar.
Meski faktor eksternal mulai membaik, Hendra menilai investor masih menaruh perhatian besar terhadap perkembangan kebijakan ekonomi di dalam negeri. Kejelasan arah kebijakan fiskal, efisiensi belanja negara, dan pengelolaan anggaran menjadi faktor penting yang akan menentukan keberlanjutan penguatan pasar.
"Investor masih menunggu kejelasan arah kebijakan ekonomi, kepastian regulasi, efisiensi belanja negara, serta pengelolaan anggaran yang lebih prudent dan kredibel," tutur dia.