Pelaku pasar kini mencermati arah negosiasi tersebut untuk menilai peluang dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya menyumbang sekitar 9 persen pasokan aluminium global sebelum konflik pecah.
Meski kedua pihak telah melakukan pembicaraan, hingga kini belum tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah mendorong inflasi dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi global.
Sejumlah analis sebelumnya menaikkan proyeksi harga aluminium akibat gangguan pasokan selama konflik.
Namun, survei Reuters menunjukkan harga diperkirakan kembali turun dari level tinggi saat ini dalam beberapa bulan ke depan.
Dari sisi fundamental, analis Everbright Futures mencatat adanya kontras antara penurunan stok di gudang London Metal Exchange dan penumpukan persediaan di Shanghai Futures Exchange. Kondisi ini membatasi penyempitan selisih harga antara pasar domestik dan global.