sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Batu Bara Bertahan di Level Tertinggi 17 Bulan, Perang Iran Jaga Premi Energi

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
27/03/2026 14:42 WIB
Harga batu bara menguat di atas USD140 per ton pada Jumat (27/3/2026), mendekati level tertinggi sejak Oktober 2024.
Harga Batu Bara Bertahan di Level Tertinggi 17 Bulan, Perang Iran Jaga Premi Energi. (Foto: Unsplash)
Harga Batu Bara Bertahan di Level Tertinggi 17 Bulan, Perang Iran Jaga Premi Energi. (Foto: Unsplash)

IDXChannel - Harga batu bara menguat di atas USD140 per ton pada Jumat (27/3/2026), mendekati level tertinggi sejak Oktober 2024 seiring ketidakpastian upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Iran yang menjaga premi risiko pada harga energi.

Dalam perkembangan terbaru, mengutip Trading Economics, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperpanjang tenggat serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari guna memberi ruang negosiasi, meski Pentagon dilaporkan mempertimbangkan pengiriman hingga 10.000 tambahan pasukan darat ke Timur Tengah.

Harga batu bara telah melonjak lebih dari 20 persen sejak perang Iran dimulai, seiring gangguan berkepanjangan pada aliran minyak dan gas global mendorong pembangkit listrik di negara-negara besar meningkatkan ketergantungan pada batu bara.

Jepang turut bergabung dengan sejumlah negara lain dengan memberi sinyal peningkatan penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara untuk menghadapi guncangan energi akibat konflik Timur Tengah.

Melansir dari Reuters, Kementerian industri Jepang akan mengusulkan peningkatan penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara pada tahun fiskal yang dimulai April, seiring perang AS-Israel dengan Iran menambah ketidakpastian impor gas alam cair (LNG), dalam rencana yang akan diajukan pada Jumat (27/3).

Jepang menerima sekitar 4 juta metrik ton LNG per tahun, atau sekitar 6 persen dari total impornya, melalui Selat Hormuz yang secara efektif tertutup akibat perang.

Dalam rencana yang akan dipresentasikan kepada kelompok ahli pemerintah, Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) mengusulkan penangguhan selama satu tahun terhadap batas 50 persen tingkat utilisasi kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara.

Konsumsi LNG kemudian diperkirakan turun sekitar 0,5 juta ton per tahun, atau sedikit lebih dari 10 persen dari LNG yang diimpor melalui Selat Hormuz, menurut METI.

Belum jelas seberapa cepat proposal tersebut akan disetujui. Nikkei, yang pertama kali melaporkan rencana itu pada Kamis, menyebutkan perdana menteri dijadwalkan menyampaikan pengumuman terkait.

Data METI menunjukkan Jepang memiliki stok LNG sekitar 4 juta ton. Pembangkit listrik termal negara tersebut sebagian besar bergantung pada LNG dan batu bara, dengan porsi kecil ditopang oleh minyak. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement