IDXChannel - Gejolak konflik di Timur Tengah, ditambah ketidakpastian keputusan MSCI terhadap Indonesia, membuat investor mulai menata ulang portofolio sahamnya.
Tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah turun tajam sekitar 22 persen ke level 7.101,00 dari rekor tertinggi awal 2026 dan masuk fase bear market semakin mendorong pelaku pasar mencari sektor yang lebih tahan terhadap guncangan global, terutama saham energi yang diuntungkan lonjakan harga minyak.
Eskalasi ketegangan kawasan, terutama yang berpotensi mengganggu jalur energi global seperti Selat Hormuz, mendorong lonjakan harga minyak dan petrokimia, sekaligus membuka peluang bagi emiten yang memiliki keterkaitan langsung dengan sektor energi dan logistik.
Dalam situasi ini, saham-saham berbasis energi dinilai menjadi penerima manfaat utama karena memiliki leverage langsung terhadap kenaikan harga minyak dan gas (migas).
Emiten amonia domestik PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) menonjol berkat eksposur amonia skala besar dengan keunggulan biaya yang struktural.