Pasar dinilai belum sepenuhnya memasukkan dampak primer dan sekunder dari lonjakan harga minyak ke dalam valuasi saham, sehingga peluang re-rating masih terbuka.
Skenario paling agresif menunjukkan harga minyak bisa menembus USD120-130 per barel jika gangguan pasokan di Selat Hormuz berlanjut.
Kondisi ini berpotensi mendorong revisi naik laba emiten energi secara signifikan, meski risiko koreksi cepat tetap ada jika konflik mereda dan pasokan kembali normal.
Di sisi lain, risiko tetap perlu diperhatikan, mulai dari respons suplai oleh OPEC+, pelemahan permintaan global, hingga potensi kebijakan pemerintah seperti pajak windfall atau perluasan Domestic Market Obligation (DMO).
Bahkan dalam skenario gencatan senjata, pemulihan rantai pasok energi diperkirakan tidak berlangsung cepat dan bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.