IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) berbalik menguat usai sempat melemah pada perdagangan Senin (4/5/2026), ditopang ketegangan di Timur Tengah serta kekhawatiran gangguan pasokan akibat cuaca.
Namun, kekhawatiran terhadap permintaan dan penguatan ringgit membatasi kenaikan.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juli di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 34 ringgit, atau 0,74 persen, menjadi 4.604 ringgit Malaysia per metrik ton saat jeda tengah hari. Sebelumnya, kontrak ini sempat turun hingga 0,42 persen.
Direktur The Farm Trade yang berbasis di Kuala Lumpur, Sandeep Singh, mengatakan konflik di Timur Tengah, ancaman El Nino, serta potensi cuaca buruk yang dapat mengganggu produksi menjadi faktor penopang harga.
Namun demikian, ia menilai lemahnya permintaan akibat ketidakpastian ekonomi menjadi risiko tersendiri, demikian pula potensi penurunan penggunaan biodiesel. “Penguatan ringgit juga turut menekan harga,” ujarnya, sebagaimana dikutip Reuters.
Surveyor kargo memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada April turun antara 15,3 persen hingga 16,2 persen dibanding bulan sebelumnya.
Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik tipis 0,07 persen. Sementara itu, Dalian Commodity Exchange tutup karena libur dan akan kembali beroperasi pada 6 Mei.
Pergerakan harga minyak sawit cenderung mengikuti minyak nabati pesaing, seiring persaingan dalam pasar global minyak nabati.
Harga minyak mentah melemah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan negaranya akan mulai membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz.
Meski begitu, belum adanya kesepakatan damai antara AS dan Iran menjaga harga tetap bertahan di atas USD100.
Pelemahan harga minyak mentah membuat minyak sawit kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Di sisi lain, ringgit, mata uang perdagangan minyak sawit, menguat 0,3 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat komoditas ini menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain.
Sementara, Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia mengekspor 5,85 juta ton minyak sawit mentah dan olahan pada kuartal pertama, naik 9,30 persen secara tahunan. (Aldo Fernando)