AmInvestment Bank menambahkan, pembalikan tren bullish yang berkelanjutan tampaknya kecil kemungkinan terjadi kecuali penguatan ringgit mulai mereda. Bank tersebut melihat level suport untuk kontrak CPO di MYR4.012 per ton dan level resisten di MYR4.169 per ton.
Di India, sebagai pembeli utama, impor minyak sawit pada 2025-2026 diperkirakan naik menjadi 9,3 juta ton dari 7,58 juta ton, level terendah dalam lima tahun, yang berpotensi mengangkat permintaan.
Sementara itu, Indonesia sebagai pemasok terbesar dunia memperketat pengawasan sektor kelapa sawit di tengah dugaan manipulasi data ekspor untuk menghindari pungutan. Langkah ini dapat menahan pengiriman dalam jangka pendek dan memberi sedikit dukungan harga.
Kendati demikian, harga minyak sawit masih berada di jalur penurunan bulanan ketiga, turun sekitar 2,2 persen, tertekan oleh lemahnya ekspor.
Lembaga survei kargo melaporkan pengiriman Malaysia merosot 16,4 persen–18,8 persen dalam 25 hari pertama November, sementara ekspor ke China jatuh hampir 29 persen sepanjang 10 bulan pertama 2025, menurut menteri komoditas. (Aldo Fernando)