sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga CPO Naik, Konflik Timur Tengah dan Pasokan Ketat Jadi Sentimen

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
02/04/2026 15:31 WIB
Harga minyak sawit mentah (CPO) naik lebih dari 1 persen pada Kamis (2/4/2026) setelah melemah pada hari sebelumnya.
Harga CPO Naik, Konflik Timur Tengah dan Pasokan Ketat Jadi Sentimen. (Foto: Freepik)
Harga CPO Naik, Konflik Timur Tengah dan Pasokan Ketat Jadi Sentimen. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) naik lebih dari 1 persen pada Kamis (2/4/2026) setelah melemah pada hari sebelumnya, didorong ketidakpastian konflik Timur Tengah serta ekspektasi penurunan produksi pada Maret yang menopang harga.

Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Juni di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 1,36 persen menjadi 4.834 ringgit Malaysia per ton hingga jeda tengah hari.

Direktur broker Pelindung Bestari Paramalingam Supramaniam mengatakan pasar minyak sawit masih diliputi ketidakpastian di tengah negosiasi yang berlangsung, seiring sinyal campuran dari Washington dan Teheran membuat pelaku pasar belum yakin apakah konflik Timur Tengah akan mereda atau justru meningkat.

Di sisi pasokan, ia menilai data produksi menunjukkan kenaikan yang hanya tipis, dengan stok akhir Maret berada di kisaran 2 juta hingga 2,2 juta ton, level yang menopang pasar karena tren output secara bertahap terus menurun.

Menurut laporan Reuters, Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) dijadwalkan merilis data pasokan dan permintaan Maret pada 10 April.

Di pasar lain, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,27 persen, sementara kontrak minyak sawitnya melemah 0,28 persen. Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik 1,4 persen.

Pergerakan minyak sawit mengikuti harga minyak nabati pesaing karena komoditas ini bersaing dalam pasar minyak nabati global.

Harga minyak mentah naik lebih dari USD5 per barel setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan negaranya akan melanjutkan serangan terhadap Iran tanpa memberikan jadwal pasti untuk mengakhiri perang, yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi berkepanjangan.

Harga minyak mentah yang lebih lemah dapat membuat minyak sawit kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Ringgit Malaysia, mata uang perdagangan minyak sawit, melemah 0,15 persen terhadap dolar AS sehingga membuat komoditas ini sedikit lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang asing.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan permintaan bahan baku biodiesel diperkirakan mencapai sekitar 15 juta ton tahun ini, naik 2 juta ton secara tahunan setelah memperhitungkan program biodiesel B50 berbasis minyak sawit. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement