Minyak sawit cenderung mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena bersaing dalam pasar minyak nabati global.
Harga minyak mentah melonjak lebih dari 3 persen setelah Garda Revolusi Iran menyatakan telah menargetkan pangkalan udara Amerika Serikat (AS) sebagai respons atas serangan AS di dekat bandara Bandar Abbas.
Kenaikan harga minyak mentah membuat minyak sawit menjadi pilihan yang lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Ringgit Malaysia, mata uang perdagangan minyak sawit, melemah 0,45 persen terhadap dolar AS sehingga komoditas tersebut menjadi lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang asing.
Data Komisi Eropa menunjukkan impor kedelai Uni Eropa untuk musim 2025/2026 yang dimulai pada Juli mencapai 11,95 juta ton hingga 24 Mei, turun 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.