IDXChannel - J.P. Morgan menaikkan rekomendasi saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dari Underweight menjadi Overweight dengan target harga baru Rp3.400 untuk Juni 2027, lebih tinggi dibandingkan target sebelumnya sebesar Rp2.730. Kenaikan rekomendasi tersebut didorong oleh penurunan risiko kualitas aset (asset quality/AQ) pada segmen kredit mikro serta prospek yang lebih baik terhadap portofolio pinjaman Agrinas dan PNM.
Dalam riset bertajuk Micro Trumps Macro; Tactical Upgrade to OW tertanggal 19 Juli 2026, analis J.P. Morgan menilai langkah-langkah perbaikan yang dilakukan BRI mulai menunjukkan hasil sehingga meningkatkan keyakinan terhadap prospek jangka pendek saham perseroan.
J.P. Morgan juga menaikkan proyeksi laba per saham (EPS) BBRI untuk periode 2026-2028 sebesar 3-6 persen, terutama karena ekspektasi biaya kredit (credit cost) yang lebih rendah di kisaran 310 basis poin. Meski demikian, proyeksi tersebut masih berada sekitar 8-9 persen di bawah konsensus pasar (Street).
Menurut J.P. Morgan, valuasi saham BBRI saat ini tergolong menarik. Saham BBRI diperdagangkan pada valuasi sekitar 7,3 kali price to earnings (PE) dan 1,31 kali price to book value (PBV) tahun 2026 atau sekitar 2,2-2,6 standar deviasi di bawah rata-rata historis lima hingga sepuluh tahun.
Dibandingkan bank BUMN besar lainnya seperti Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Negara Indonesia (BBNI), valuasi BBRI dinilai lebih murah.
J.P. Morgan menilai sebagian besar sentimen negatif terhadap kinerja BRI telah tercermin pada harga saham. Data hingga Mei 2026 serta diskusi dengan pelaku industri menunjukkan risiko penurunan kualitas kredit, khususnya pada segmen masyarakat berpenghasilan rendah, mulai mereda.
Selain itu, berbagai program pemerintah, termasuk penyaluran bantuan dan subsidi energi, dinilai mampu menopang arus kas debitur mikro dan masyarakat pedesaan sehingga membuka peluang terjadinya penguatan harga saham dalam jangka pendek.
Dari sisi operasional, BRI dinilai berhasil memperbaiki kualitas kredit melalui pengetatan proses underwriting dan peningkatan efektivitas penagihan. Jumlah debitur mikro yang ditangani setiap petugas kredit telah diturunkan menjadi 456 debitur, dibandingkan 528 debitur pada 2022, dan perseroan menargetkan rasio tersebut turun mendekati 400 debitur per petugas.