AALI
9350
ABBA
278
ABDA
0
ABMM
2500
ACES
720
ACST
169
ACST-R
0
ADES
6175
ADHI
745
ADMF
8125
ADMG
173
ADRO
3140
AGAR
314
AGII
2340
AGRO
845
AGRO-R
0
AGRS
116
AHAP
83
AIMS
246
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1545
AKRA
1180
AKSI
270
ALDO
775
ALKA
292
ALMI
0
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/10 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
536.47
-0.12%
-0.62
IHSG
7086.24
-0.23%
-16.64
LQ45
1007.80
-0.09%
-0.91
HSI
19567.55
-2.18%
-435.89
N225
27819.33
-0.65%
-180.63
NYSE
15264.79
-0.27%
-41.01
Kurs
HKD/IDR 195
USD/IDR 14,872
Emas
856,617 / gram

Harga CPO Turun 2,5 Persen, Imbas Minimnya Permintaan China dan India

MARKET NEWS
Athika Rahma
Jum'at, 17 Juni 2022 13:02 WIB
Harga minyak sawit mentah atau CPO terus melemah dalam sepekan terakhir. Itu karena menurunnya permintaan dari India dan China.
Harga CPO Turun 2,5 Persen, Imbas Minimnya Permintaan China dan India. (Foto: MNC Media)
Harga CPO Turun 2,5 Persen, Imbas Minimnya Permintaan China dan India. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) terus melemah dalam sepekan terakhir. Itu karena menurunnya permintaan dari India dan China.

Mengutip data Bursa Derivative Malaysia pada Jumat (17/6) siang, harga CPO untuk kontrak Juni 2022 turun 2,5 persen menjadi MYR 6.000 per ton. Selama sepekan terakhir, harganya ambles hingga 10,98 persen.

Untuk kontrak Juli 2022, harganya juga turun 1,28 persen menjadi MYR 5.610 per ton. Sementara itu, harga untuk kontrak Agustus 2022 terkoreksi 1,32 persen menjadi MYR 5.463 per ton.

Ambruknya harga ini disebabkan oleh kebijakan Indonesia yang mempercepat ekspor CPO. Hal ini dilakukan agar tangki penyimpanan yang penuh segera kosong sehingga produsen bisa kembali memproduksi CPO lebih banyak.

Di sisi lain, permintaan CPO sebenarnya masih belum mengalami peningkatan signifikan. China, sebagai konsumen minyak nabati terbesar, masih menerapkan lockdown sehingga aktivitas ekonomi belum mengalami pemulihan.

Demikian pula dengan India yang menurunkan impor CPO karena menambah impor minyak kedelai dan minyak matahari sebagai pengganti CPO. (FRI)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD