Di pasar lain, kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian turun 1,12 persen, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah 0,53 persen.
Sementara, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) turun 0,68 persen.
Harga minyak sawit umumnya bergerak mengikuti pergerakan minyak nabati pesaing karena saling bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Meski demikian, Kepala Riset Komoditas Sunvin Group, Anilkumar Bagani, mengatakan, dikutip Reuters, diskon harga minyak sawit terhadap minyak nabati pesaing, ancaman El Nino, serta potensi pengetatan pasokan akibat kebijakan mandatori B50 di Indonesia masih menjadi faktor penopang harga.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan, kebijakan peningkatan campuran biodiesel dari B40 menjadi B50 diperkirakan meningkatkan konsumsi CPO menjadi 16,3 juta hingga 17 juta ton, dari sebelumnya sekitar 15,2 juta ton.