Dari pasar energi, harga minyak mentah bergerak melemah di tengah harapan penyelesaian konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran yang meredakan kekhawatiran gangguan pasokan.
Meski demikian, harga Brent masih bertahan di dekat level tertinggi dalam enam bulan terakhir setelah serangan kelompok Houthi Yaman terhadap Arab Saudi mengurangi harapan tercapainya stabilitas kawasan dalam waktu dekat.
Pelemahan harga minyak mentah membuat minyak sawit kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel, sehingga berpotensi menambah tekanan terhadap harga CPO.
Dari sisi mata uang, ringgit Malaysia, yang digunakan dalam transaksi CPO, menguat 0,02 persen terhadap dolar AS. Penguatan ini membuat minyak sawit sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Di tengah tekanan harga, ekspor minyak sawit Malaysia justru menunjukkan pertumbuhan.