sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Emas Dibayangi Tekanan Suku Bunga, Investor Cermati Data Ekonomi AS

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
29/06/2026 06:52 WIB
Harga emas diperkirakan masih bergerak penuh kehati-hatian pada perdagangan pekan ini setelah mencatat penurunan mingguan selama empat pekan beruntun.
Harga Emas Dibayangi Tekanan Suku Bunga, Investor Cermati Data Ekonomi AS. (Foto: Magnific)
Harga Emas Dibayangi Tekanan Suku Bunga, Investor Cermati Data Ekonomi AS. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga emas diperkirakan masih bergerak penuh kehati-hatian pada perdagangan pekan ini setelah mencatat penurunan mingguan selama empat pekan beruntun.

Meski sempat menguat pada Jumat (26/6/2026) pekan lalu seiring pelemahan dolar AS dan meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS), sentimen pasar terhadap logam mulia masih cenderung negatif.

Mengutip data perdagangan, harga emas spot naik 1,53 persen menjadi USD4.088,38 per troy ons pada akhir pekan lalu.

Penguatan tersebut terjadi setelah dolar AS melemah dari level tertingginya usai rilis data inflasi AS yang menjadi salah satu acuan utama kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS tercatat meningkat 4,1 persen secara tahunan hingga Mei 2026, sesuai dengan perkiraan ekonom dalam jajak pendapat Reuters.

Data tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga AS sedikit berkurang.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, peluang kenaikan suku bunga AS pada September kini diperkirakan sekitar 59 persen, turun dari ekspektasi sebelumnya sebesar 64 persen.

Meski demikian, survei mingguan Kitco News menunjukkan mayoritas pelaku pasar masih melihat ruang pelemahan harga emas pada pekan ini.

Dari 18 analis Wall Street yang mengikuti survei, sebanyak delapan analis atau 44 persen memperkirakan harga emas turun, sementara lima analis atau 28 persen memprediksi harga akan menguat. Lima analis lainnya memperkirakan emas bergerak mendatar.

Di kalangan investor ritel, sentimen serupa terlihat dalam jajak pendapat Kitco yang melibatkan 238 responden.

Sebanyak 109 investor atau 46 persen memperkirakan harga emas melemah pada pekan ini, sedangkan 89 investor atau 37 persen memperkirakan harga naik. Sisanya, 17 persen memperkirakan emas bergerak konsolidasi.

Presiden Adrian Day Asset Management Adrian Day menilai arah pergerakan emas masih dipengaruhi sejumlah faktor yang saling berlawanan.

“Tidak berubah, meskipun kata yang lebih tepat adalah ‘tidak pasti’. Ada kekuatan yang saling bersaing: konflik Iran dapat kembali meningkat, sementara aksi jual saham teknologi dan AI dapat memicu kebutuhan likuiditas yang lebih besar, terutama karena utang margin di pasar saham AS telah mencapai rekor tertinggi,” ujarnya kepada Kitco.

Sementara itu, Kepala Aset Logam di Britannia Global Markets Neil Welsh mengatakan sentimen investor masih berhati-hati, tetapi kondisi pasar emas lebih menunjukkan fase konsolidasi dibandingkan aksi jual besar-besaran.

“Sentimen tetap hati-hati, tetapi latar belakang yang lebih luas masih terlihat seperti konsolidasi daripada kapitulasi,” kata Welsh.

Analis senior pasar di Barchart.com Darin Newsom menjadi salah satu analis yang memperkirakan harga emas berpotensi menguat pada pekan ini.

Perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada rangkaian data ekonomi AS, terutama sektor tenaga kerja.

Pasar akan mencermati data lowongan kerja JOLTS, laporan ketenagakerjaan ADP, indeks manufaktur ISM, serta klaim pengangguran sebelum rilis laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Kamis mendatang.

Selain data ekonomi, pasar juga akan memperhatikan pernyataan sejumlah pejabat bank sentral, termasuk Ketua The Fed Kevin Warsh yang dijadwalkan berbicara dalam acara Bank Sentral Eropa (ECB).

Data tenaga kerja dan arah kebijakan moneter AS akan menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan harga emas dalam jangka pendek. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement