IDXChannel - Harga emas dunia jatuh ke level terendah dalam lebih dari sepekan pada Jumat (15/5/2026) setelah imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan dolar menguat.
Sementara, meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat perang Iran memperkuat spekulasi suku bunga akan tetap tinggi.
Harga emas spot turun 2,37 persen menjadi USD4.539,99 per troy ons, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 4 Mei pada sesi perdagangan sebelumnya. Sepanjang pekan ini, harga emas telah melemah 3,73 persen.
“Terjadi aksi jual di seluruh logam mulia karena beberapa alasan. Dolar menguat cukup signifikan pada Jumat. Kami juga melihat kenaikan imbal hasil obligasi tidak hanya di AS, tetapi juga secara global,” ujar analis Marex, Edward Meir, dikutip Reuters.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik mendekati level tertinggi dalam hampir satu tahun, sehingga meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Dolar juga diperkirakan mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam dua bulan terakhir, membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kesabarannya terhadap Iran mulai habis. Sementara itu, pembicaraan dengan China belum menghasilkan terobosan besar terkait perdagangan maupun bantuan nyata untuk mengakhiri perang.
Harga minyak mentah telah melonjak lebih dari 40 persen sejak perang dimulai pada 28 Februari, memicu kenaikan inflasi global.
Bank sentral cenderung menaikkan suku bunga saat inflasi meningkat, kondisi yang biasanya mengurangi daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Pelaku pasar kini sebagian besar menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga AS tahun ini, sementara spekulasi kenaikan suku bunga justru meningkat, menurut CME FedWatch Tool.
Harga perak spot anjlok 7,7 persen menjadi USD77,07 per ons, platinum turun 3,6 persen menjadi USD1.982,47, dan paladium melemah 1,5 persen ke USD1.415,09. Ketiga logam tersebut juga menuju penurunan mingguan.
Analis StoneX, Rhona O’Connell, mengatakan harga perak sebelumnya sudah terlalu tinggi sehingga membutuhkan koreksi.
Harga perak bahkan sempat jatuh hingga 9 persen dan diperkirakan mencatat kinerja harian terburuk sejak 3 Maret. (Aldo Fernando)