"Lonjakan harga minyak mentah mendorong kenaikan imbal hasil obligasi karena pasar menilai bank sentral tidak akan bisa menurunkan suku bunga akibat tekanan inflasi. Kenaikan imbal hasil obligasi menjadi musuh bagi emas dan perak karena kedua aset tersebut tidak memberikan imbal hasil," kata analis pasar di American Gold Exchange, Jim Wyckoff, dikutip Reuters.
Harga minyak Brent sempat menembus USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi.
Insiden tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global dapat meluas hingga melampaui Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak selama beberapa waktu terakhir membebani harga emas karena meningkatkan ekspektasi suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Pelaku pasar kini menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pekan depan, beserta pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh setelah berakhirnya rapat kebijakan moneter selama dua hari.