"Ini pun juga membuat satu kecemasan di Eropa Timur yang bisa mengangkat harga minyak, yang bisa menguatkan indeks dollar AS. Sebenarnya bisa menguatkan harga emas dunia, tetapi karena ada penutupan Selat Hormuz dan cadangan minyak di AS tempat pekan ke depan mengalami penurunan, kekosongan, ini yang membuat harga minyak naik sehingga harga emas dunia mengalami koreksi," kata dia.
Kendati dibayangi tekanan koreksi dalam jangka pendek, Ibrahim mengaku tetap menaruh optimisme tinggi terhadap prospek investasi emas dalam jangka panjang. Fondasi utama yang akan menjadi bantalan kuat bagi harga emas adalah masifnya aksi borong yang dilakoni oleh jajaran bank sentral global.
Sepanjang kuartal I-2026, bank-bank sentral di berbagai negara dilaporkan telah menyerap sekitar 244 ton emas sebagai bagian dari strategi mitigasi, lindung nilai, serta gerakan pengurangan ketergantungan terhadap mata uang dolar (dedolarisasi).
Bank Nasional Polandia memimpin sebagai pembeli terbesar dengan koleksi 31 ton, disusul Bank Sentral Uzbekistan 25 ton, Bank Sentral Kazakhstan 13 ton, serta Bank Indonesia yang tidak ketinggalan menambah cadangan emasnya sebanyak 2 ton pada kuartal yang sama. Aktivitas penguatan cadangan ini juga terus dipacu oleh negara dengan kapasitas ekonomi raksasa seperti China.
Riset lembaga investasi global memperkirakan total akumulasi pembelian emas oleh otoritas moneter dunia bisa menembus angka 900 ton sepanjang tahun 2026. Data ini diperkuat oleh hasil survei yang menunjukkan sekitar 45 persen bank sentral dunia berencana terus menambah porsi emas batangan mereka.
"Sehingga ini yang sebenarnya bom waktu, tinggal menunggu saja kapan waktu yang tepat agar harga emas dunia, logam mulia ini kembali meloncat," ujar Ibrahim.
(Dhera Arizona)