IDXChannel – Harga emas dunia melonjak lebih dari 4 persen ke level tertinggi dalam lebih dari dua setengah bulan pada Rabu (19/8/2026), setelah pengumuman mengejutkan Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) terkait dukungan likuiditas menekan imbal hasil obligasi dan dolar AS.
Harga emas spot naik 4,35 persen menjadi USD4.523,05 per troy ons. Harga emas sempat menyentuh level tertinggi sejak 4 Juni 2026 di USD4.524,34 per troy ons.
Dari sisi teknikal, harga emas spot berhasil menembus rata-rata pergerakan 100 hari yang berada di kisaran USD4.381 per troy ons.
"Ini benar-benar di luar dugaan. Kondisi ini sangat bullish untuk emas karena imbal hasil Treasury bertenor panjang turun dan langkah tersebut dapat membantu menekan dolar AS," kata pakar industri sekaligus mantan kepala perdagangan logam mulia di Koch Supply and Trading, Robert Gottlieb, dikutip Reuters.
Indeks dolar AS turun 0,8 persen, sehingga membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Penurunan harga emas terjadi setelah imbal hasil Treasury AS bertenor 30 tahun merosot tajam pada Rabu, dari level yang sebelumnya berada di sekitar titik tertinggi dalam 19 tahun.
Departemen Keuangan AS menyatakan akan menggandakan nilai operasi pembelian kembali obligasi yang ditujukan untuk mendukung likuiditas surat utang bertenor panjang.
TD Securities dalam catatannya menyebut pengumuman tersebut telah memberikan dorongan baru bagi pasar logam mulia.
"Meski minat beli yang kuat telah mereda dalam beberapa hari terakhir, arus investasi emas dapat kembali dengan cepat di tengah dukungan likuiditas dari Departemen Keuangan AS, The Fed yang bersedia mengabaikan dampak guncangan energi, serta menguatnya narasi stagflasi. Semua faktor tersebut pada akhirnya berpotensi mendorong penurunan suku bunga riil," tulis TD Securities.
Di sisi lain, risalah rapat The Fed pada 28-29 Juli 2026 menunjukkan sejumlah pejabat bank sentral AS siap menaikkan suku bunga. Banyak pejabat juga menilai kenaikan suku bunga lebih lanjut mungkin diperlukan apabila inflasi tidak kembali ke target 2 persen.
Namun, ekspektasi pasar saat ini menunjukkan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 15-16 September 2026.
Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, probabilitas suku bunga tetap berada di level saat ini mencapai 65 persen, setelah sejumlah data ekonomi AS yang lemah baru-baru ini mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga. (Aldo Fernando)