Analis memperkirakan kehilangan produksi minyak Timur Tengah mencapai 7 juta hingga 10 juta barel per hari.
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menyebut krisis Timur Tengah saat ini lebih buruk dibandingkan dua guncangan minyak pada 1970-an jika digabungkan.
Krisis pasokan juga mendorong pelonggaran sementara sanksi AS terhadap minyak Rusia dan Iran yang sudah berada di laut.
Perusahaan kilang asal India berencana kembali membeli minyak Iran, sementara kilang lain di Asia tengah mempertimbangkan langkah serupa, menurut para trader kepada Reuters.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan negaranya sangat kecil kemungkinan melepas cadangan dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) untuk menenangkan pasar energi selama perang Iran berlangsung.