sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Anjlok Lebih dari 6 Persen Imbas Meredanya Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz

Market news editor Febrina Ratna Iskana
07/05/2026 07:23 WIB
Harga minyak merosot tajam pada Rabu (6/5/2026) karena meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz.
Harga Minyak Anjlok Lebih dari 6 Persen Imbas Meredanya Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz. (Foto: iNews Media Group)
Harga Minyak Anjlok Lebih dari 6 Persen Imbas Meredanya Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz. (Foto: iNews Media Group)

Project Freedom dan Jalur Aman Selat Hormuz

Trump pada Selasa mengatakan bahwa ia akan menghentikan sementara operasi yang disebut Project Freedom yang bertujuan untuk memulihkan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz.

Presiden mengatakan langkah tersebut "berdasarkan permintaan Pakistan dan negara-negara lain, keberhasilan militer yang luar biasa yang telah kita raih selama kampanye melawan negara Iran dan, selain itu, fakta bahwa kemajuan besar telah dicapai menuju kesepakatan lengkap dan final dengan perwakilan Iran."

Sementara itu, Press TV Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan bahwa jalur aman melalui selat tersebut akan dimungkinkan.

“Kami berterima kasih kepada para kapten dan pemilik kapal di Teluk Persia dan Teluk Oman karena telah mematuhi peraturan Selat Hormuz dan berkontribusi pada keamanan maritim regional. Dengan ancaman agresor yang dinetralisir dan protokol baru yang diberlakukan, jalur pelayaran yang aman akan terjamin,” kata Press TV, mengutip pernyataan dari pusat komando angkatan laut IRGC.

Penghentian sementara Project Freedom ini menyusul meningkatnya ketegangan awal pekan ini, ketika inisiatif Trump untuk mengamankan lalu lintas maritim melalui selat tersebut memicu respons militer dari Iran.

Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan satu-satunya "solusi yang layak" di selat tersebut adalah "pengakhiran permanen perang, pencabutan blokade maritim, dan pemulihan jalur pelayaran normal."

“Kesepakatan yang menormalkan aliran minyak melalui Selat Hormuz sangat penting,” kata analis di ING dalam sebuah catatan.

"Sekitar 13 juta barel per hari pasokan yang terganggu sebagian besar diimbangi oleh persediaan, yang jelas menurun dengan cepat. Ini membuat pasar semakin rentan setiap harinya. Stok yang lebih ketat hanya akan membuat pasar minyak bergejolak dengan cara yang semakin fluktuatif," tambah mereka.

Ekspor Minyak Mentah AS Capai Rekor

Di sisi lain, Administrasi Informasi Energi (EIA) AS dalam laporan mingguannya pada Rabu menyebut persediaan minyak mentah komersial AS (tidak termasuk yang ada di Cadangan Minyak Strategis) turun sebesar 2,3 juta barel.

Ekspor minyak mentah AS turun dari 1 juta barel per hari pada pekan yang berakhir 1 Mei menjadi total 457,2 juta barel. Analis memperkirakan penurunan sebesar 3,4 juta barel.

Data EIA juga menunjukkan ekspor minyak mentah dan produk minyak mentah AS yang cukup tinggi yang mencapai 4,75 juta barel per hari pada pekan yang berakhir 1 Mei, dengan ekspor produk minyak mentah mencapai rekor tertinggi sebesar 8,22 juta barel per hari.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa AS telah menjadi pemasok minyak utama selama konflik di tengah penutupan Selat Hormuz yang terus berlanjut. Asia khususnya, diikuti oleh Eropa, bergantung pada pasokan minyak dari titik kritis tersebut.

(Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 Lihat Semua
Advertisement
Advertisement