Untuk Brent, level USD95 per barel menjadi titik perhatian pasar setelah harga kembali mendekati level tersebut.
Jika mampu bertahan di atas USD95, harga berpeluang melanjutkan penguatan menuju level yang lebih tinggi. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level tersebut dapat mendorong harga kembali ke area pertengahan USD90-an.
Menurut Lewis, perkembangan konflik di kawasan Teluk Persia masih menjadi faktor utama yang akan menentukan arah harga.
Setiap gangguan lebih lanjut terhadap distribusi minyak dapat memperketat pasokan dan memberikan dorongan tambahan terhadap harga.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak mulai memberikan dampak terhadap inflasi global. Harga diesel ritel di AS bahkan telah mencapai rekor tertinggi, meningkatkan biaya transportasi dan produksi sekaligus menambah tekanan terhadap inflasi.