Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan risiko belum sepenuhnya hilang.
Analis SEB Research, Ole Hvalbye, menilai pasar minyak Eropa masih akan mengalami pasokan ketat dalam jangka pendek, mengingat waktu pengiriman dari Teluk ke Rotterdam memakan sekitar 21 hari.
Sementara itu, analis PVM Oil Associates Tamas Varga memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz bisa kembali terjadi jika kesepakatan terkait program nuklir Iran dan pencabutan sanksi AS tidak tercapai.
Dari sisi pasokan AS, laporan Baker Hughes menunjukkan jumlah rig minyak dan gas kembali turun untuk dua pekan berturut-turut, menandakan adanya penyesuaian aktivitas produksi di tengah volatilitas harga.
Perkembangan terbaru, Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu (18/4), hanya beberapa jam setelah sempat membukanya untuk lalu lintas non-militer.
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa jalur perairan tersebut akan tetap berada di bawah kendali militer ketat hingga kebebasan penuh pelayaran bagi kapal-kapal Iran dipulihkan.