IDXChannel - Harga minyak dunia ditutup melonjak sekitar 9 persen pada Kamis (12/3/2026) dan mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun, setelah Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di Timur Tengah.
Pada saat yang sama, pemimpin tertinggi Iran berjanji akan tetap menutup Selat Hormuz yang vital bagi jalur perdagangan energi global.
Kontrak berjangka (futures) minyak Brent ditutup di USD100,46 per barel, melesat 9,2 persen, setelah sempat menyentuh level tertinggi sesi di USD101,60.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir di USD95,70 per barel, juga melejit 9,7 persen.
Kedua kontrak minyak tersebut mencatat penutupan tertinggi sejak Agustus 2022.
Wakil Presiden sekaligus Kepala Riset Minyak Mentah Global di S&P Global Energy, Jim Burkhard, mengatakan pasar saat ini berada dalam kondisi sangat tidak seimbang.
“Situasi ini akan terus berlangsung sampai Selat Hormuz dibuka kembali dan operasi hulu maupun hilir kembali normal. Itu tidak akan terjadi dengan cepat,” ujarnya, seperti dikutip Reuters.
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengatakan kepada CNBC International bahwa Angkatan Laut AS saat ini belum dapat mengawal kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Namun ia menilai langkah tersebut “cukup mungkin” dilakukan sebelum akhir bulan.
Wright menambahkan harga minyak global kecil kemungkinan melonjak hingga USD200 per barel, meskipun Iran terus menyerang kapal-kapal dagang.
Pejabat keamanan Irak menyebut dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak diserang perahu Iran yang membawa bahan peledak. Seorang pejabat Irak juga mengatakan kepada media pemerintah bahwa seluruh pelabuhan minyak negara itu telah menghentikan operasinya.
Sementara itu, Oman memindahkan seluruh kapal dari terminal ekspor minyak utamanya di Mina Al Fahal yang berada di luar Selat Hormuz sebagai langkah pencegahan, menurut laporan Bloomberg News.
Sebelumnya pada Senin, harga Brent sempat melonjak ke USD119,50 per barel, level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Namun harga kemudian turun setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang Iran kemungkinan segera berakhir.
Untuk menahan lonjakan harga, pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk sementara waktu menangguhkan aturan pengiriman laut berusia lebih dari satu abad, Jones Act, agar pengiriman energi dan produk pertanian antar pelabuhan di AS dapat berjalan lebih leluasa. Hal itu disampaikan Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.
Gangguan Pasokan
Perang tersebut memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah pasar global, menurut International Energy Agency (IEA).
Pernyataan itu disampaikan sehari setelah lembaga tersebut menyetujui pelepasan rekor 400 juta barel minyak dari cadangan strategis.
Namun analis di Energy Aspects mengatakan rincian pelepasan cadangan tersebut belum dijelaskan secara detail, sehingga muncul keraguan di pasar apakah seluruh volume benar-benar akan dilepas.
Mereka menilai total stok, yang sebagian besar berupa minyak mentah dan sebagian produk olahan, hanya setara sekitar 25 hari dari gangguan aliran pasokan saat ini.
Negara-negara Teluk di Timur Tengah juga telah memangkas produksi minyak setidaknya 10 juta barel per hari, atau hampir 10 persen dari permintaan minyak dunia, menurut laporan pasar minyak bulanan terbaru IEA.
Selain itu, kilang-kilang di Timur Tengah menghentikan kapasitas pengolahan minyak mentah dan kondensat sebesar 2,35 juta barel per hari, menurut konsultan energi IIR Energy.
Di sisi lain, kelompok Hizbullah di Lebanon meluncurkan serangan roket terbesar sepanjang perang pada Rabu, yang memicu serangan balasan Israel hingga mengguncang Beirut.
Serangan tersebut juga meningkatkan kekhawatiran bahwa kelompok Houthi movement di Yaman dapat ikut terlibat di pihak Iran, yang berpotensi semakin mengganggu jalur pelayaran di Laut Merah.
Sementara itu, Arab Saudi meningkatkan ekspor minyak mentah dari pelabuhan Laut Merah di Yanbu dalam beberapa hari terakhir.
Di Asia, China memerintahkan larangan segera terhadap ekspor bahan bakar olahan pada Maret sebagai langkah antisipasi potensi kekurangan pasokan domestik akibat konflik di Timur Tengah, menurut sejumlah sumber Reuters. (Aldo Fernando)