Secara teknikal, analis FXEmpire, Christopher Lewis, menilai level USD100 per barel menjadi area krusial bagi WTI maupun Brent. Level tersebut diperkirakan menjadi zona support kuat apabila terjadi koreksi harga dalam jangka pendek.
Namun, arah harga minyak dalam sepekan ke depan dinilai akan sangat bergantung pada perkembangan konflik di kawasan Teluk Persia, khususnya terkait Selat Hormuz.
Jika ketegangan meningkat atau terjadi serangan terhadap infrastruktur energi maupun kapal tanker, harga minyak berpotensi melanjutkan kenaikan. Sebaliknya, jika muncul sinyal perdamaian atau pembukaan jalur pelayaran, harga minyak berpeluang turun.
Situasi dinilai sangat dinamis karena pasar harus memantau perkembangan di awal pekan, termasuk kemungkinan kesepakatan yang memungkinkan kapal tanker kembali melintas di Selat Hormuz atau justru eskalasi serangan yang memperparah konflik.
Di sisi lain, harga WTI juga menjadi sorotan karena meningkatnya tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. WTI bahkan ditutup di atas USD112 per barel dan tercatat melonjak lebih dari 104 persen dari level terendah tahun ini, dengan open interest kontrak berjangka terus meningkat.