“Pasar tidak menyukai akhir pekan panjang. Secara umum, akhir pekan jarang diwarnai de-eskalasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, harga minyak sempat turun dalam dua hari sebelumnya karena harapan Amerika Serikat (AS) dapat segera menyelesaikan operasi militer di Teluk.
Namun, harga kembali melonjak setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan peningkatan serangan terhadap Iran, yang memicu kekhawatiran pasar terhadap konflik berkepanjangan.
Dalam pidato pada Rabu malam, Trump menyatakan target militer AS akan tercapai “dalam waktu sangat singkat”, tetapi Iran akan dihantam “sangat keras” dalam beberapa pekan ke depan.
Pernyataan tersebut membuat ketidakpastian tetap tinggi karena tidak ada kejelasan jadwal berakhirnya konflik maupun pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.