Iran telah berjanji merespons sanksi AS dan menyatakan keyakinannya bahwa mitra dagang utama akan menolak tekanan Washington.
China, sebagai pembeli terbesar minyak Iran, mengatakan pada Selasa bahwa kerja samanya dengan Iran dilakukan sesuai hukum internasional dan tidak seharusnya mendapat campur tangan dari pihak lain.
"Iran masih memiliki kemampuan untuk merespons dengan mengganggu jalur pelayaran, sehingga tetap ada premi risiko yang tertanam dalam harga minyak," kata Chief Market Analyst KCM, Tim Waterer.
Risiko terhadap jalur pelayaran juga kembali terlihat setelah sebuah kapal tanker terkena proyektil yang belum teridentifikasi dan mengalami kerusakan sekitar sembilan mil laut atau 16,7 kilometer di timur laut Ash Shishah, Oman, pada Selasa. Informasi tersebut disampaikan United Kingdom Maritime Trade Operations.
Data pelayaran juga menunjukkan hanya dua kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz pada Senin. Jumlah tersebut merupakan yang terendah untuk kapal pengangkut komoditas dalam satu hari sejak awal Mei. Kedua kapal tersebut tercatat memasuki kawasan Teluk. (Aldo Fernando)