sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Melemah, Pasar Cermati Rencana Koalisi Maritim Pimpinan Arab Saudi

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
31/07/2026 06:41 WIB
Harga minyak melemah pada Kamis (30/7) setelah bergerak volatil, seiring pelaku pasar mencermati rencana pembentukan koalisi maritim yang dipimpin Arab Saudi.
Harga Minyak Melemah, Pasar Cermati Rencana Koalisi Maritim Pimpinan Arab Saudi. (Foto: Magnific)
Harga Minyak Melemah, Pasar Cermati Rencana Koalisi Maritim Pimpinan Arab Saudi. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak melemah pada Kamis (30/7/2026) setelah bergerak volatil, seiring pelaku pasar mencermati rencana pembentukan koalisi maritim yang dipimpin Arab Saudi untuk memperkuat kerja sama pertahanan di kawasan Laut Merah.

Arab Saudi mengusulkan pembentukan koalisi guna meningkatkan kerja sama pertahanan di Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan sebanyak 14 negara, termasuk Turki, Pakistan, Mesir, Sudan, dan Djibouti, telah mengeluarkan pernyataan bersama yang mendukung pembentukan koalisi pertahanan maritim multinasional tersebut.

Minyak mentah Brent ditutup turun 1,88 persen ke USD89,03 per barel.

Sepanjang perdagangan, harga Brent bergerak fluktuatif dan sempat menyentuh level tertinggi harian di USD93,31 per barel setelah Washington dan Teheran kembali saling melancarkan serangan terhadap target-target militer masing-masing.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup melemah 1,03 persen ke USD83,59 per barel, setelah sempat mencapai level tertinggi intraday di USD85,94 per barel.

Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran pekan lalu mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi, sehingga mengancam jalur Laut Merah yang menjadi rute alternatif ekspor minyak Saudi di tengah sebagian besar Selat Hormuz masih terblokade.

Partner Again Capital, John Kilduff, mengatakan kepada Reuters, pasar menilai masih ada pasokan minyak dalam jumlah besar yang siap masuk ke pasar apabila situasi geopolitik mereda.

Menurutnya, ekspektasi tersebut menjadi faktor yang membatasi kenaikan harga minyak secara tajam.

Di sisi lain, Iran dan Oman melanjutkan pembicaraan mengenai pengelolaan Selat Hormuz, menurut kantor berita Iranian Labour News Agency.

Sehari sebelumnya, seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran telah menolak usulan Oman mengenai pengelolaan bersama selat tersebut oleh negara-negara kawasan.

Ekonom Senior Iklim dan Komoditas Capital Economics, Hamad Hussain, mengatakan pembicaraan antara Oman dan Iran dapat menjadi sinyal adanya kemajuan menuju pembukaan kembali Selat Hormuz.

Selat Hormuz, yang menjadi jalur sekitar seperlima arus perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, terus menjadi perhatian utama pasar energi sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari.

Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan premi risiko di pasar minyak belum akan hilang selama pelayaran melalui Selat Hormuz masih dipandang berisiko. Menurutnya, harapan terhadap solusi diplomatik memang positif, tetapi pasar tetap memperhitungkan kenyataan bahwa serangan militer masih terus berlangsung.

Militer AS menyatakan telah menyerang puluhan target milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran dalam operasi yang dilancarkan setelah Teheran menembakkan rudal balistik ke pasukan AS di Timur Tengah.

Militer AS juga menyatakan tidak ada pesawat tempurnya yang hancur atau mengalami kerusakan dalam serangan terbaru Iran.

Pernyataan itu sekaligus membantah klaim Garda Revolusi Iran yang menyebut tiga jet tempur F-35 AS dan tiga pesawat lainnya telah dihancurkan.

Menurut Kilduff, bantahan tersebut turut membantu meredakan ketegangan di pasar sehingga mengurangi kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik lebih lanjut. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement