AALI
12225
ABBA
194
ABDA
6250
ABMM
2950
ACES
985
ACST
159
ACST-R
0
ADES
6200
ADHI
715
ADMF
8075
ADMG
181
ADRO
3160
AGAR
332
AGII
2050
AGRO
920
AGRO-R
0
AGRS
124
AHAP
63
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1160
AKRA
1015
AKSI
374
ALDO
945
ALKA
308
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
0%
0.00
IHSG
6883.50
0%
0.00
LQ45
1009.51
0%
0.00
HSI
20697.36
2.89%
+581.16
N225
26781.68
1.44%
+378.84
NYSE
0.00
-100%
-15035.87
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,693 / gram

Harga Minyak Mentah Kembali Mendidih, Brent dan WTI Naik 1 Persen

MARKET NEWS
Dinar Fitra Maghiszha
Jum'at, 13 Mei 2022 10:44 WIB
Setelah melemah akibat imbas impor minyak China yang menurun, harga minyak mentah kembali menguat pada perdagangan akhir pekan.
Harga Minyak Mentah Kembali Mendidih, Brent dan WTI Naik 1 Persen (FOTO: MNC Media)
Harga Minyak Mentah Kembali Mendidih, Brent dan WTI Naik 1 Persen (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Setelah melemah akibat imbas impor minyak China yang menurun, harga minyak mentah kembali menguat pada perdagangan akhir pekan, Jumat (13/5/2022).

Data bursa Intercontinental Exchange (ICE) Jumat (12//5) hingga pukul 10:13 WIB menunjukkan, harga minyak Brent Juli 2022 naik 1,06 persen di USD108,59 per barel. Sedangkan Brent Agustus 2022 menguat 1,06 persen di USD107,11 per barel.

West Texas Intermediate (WTI) Juni 2022 di New York Mercantile Exchange (NYMEX) menanjak 0,97 persen di USD107,16 per barel, sementara WTI Juli 2022 tumbuh 1,02 persen di USD105,46 per barel.

Kendati naik, kedua benchmark harga minyak tersebut masih dalam fase penurunan sepanjang pekan ini terpicu sentimen inflasi dan lockdown di China yang mengancam permintaan.

Pasar juga masih dibayangi kabar larangan Uni Eropa terhadap pasokan minyak Rusia. Hal ini dinilai bakal semakin melemahkan permintaan, saat Kremlin memberikan balasan sanksi terhadap perusahaan gas di Eropa.

"Faktor kekhawatiran permintaan telah tumbuh," kata Analis Komoditas Commonwealth Bank, Vivek Dhar, dilansir Reuters, Jumat (13/5/2022).

Inflasi dan kenaikan suku bunga yang agresif telah mendorong dolar AS ke level tertinggi 20 tahun. Saat dolar sedang mengangkasa, maka membuat minyak lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang lain.

"Minyak masih didorong oleh kekhawatiran pasokan karena Rusia mengambil langkah maju mempersenjatai energi," kata Managing Partner SPI Asset Management Stephen Innes.

Sebuah laporan Badan Energi Internasional (IEA) pada Kamis (12/5) mengatakan peningkatan produksi minyak di Timur Tengah dan Amerika Serikat diharapkan dapat mengisi defisit pasokan yang timbul akibat terhentinya stok Rusia.

Badan tersebut mencatat produksi Rusia akan turun hampir 3 juta barel per hari (bph) mulai Juli, atau sekitar tiga kali lebih banyak daripada yang saat ini dipindahkan. Ini bakal terjadi apabila sanksi untuk perang terhadap Ukraina semakin diperluas atau jika Rusia menghalangi pembelian dari negara-negara Eropa. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD