Pernyataan tersebut sempat membuat harga minyak mentah AS berbalik melemah pada Selasa pagi.
Namun, harga kembali menguat setelah muncul laporan bahwa satu awak kapal asal India tewas dan delapan lainnya terluka akibat serangan rudal jelajah Iran terhadap dua kapal tanker minyak milik Uni Emirat Arab.
Serangan itu memicu keraguan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu mampu menghasilkan penghentian permanen atas konflik yang telah mengganggu pasokan energi global dan memicu kekhawatiran inflasi.
Pada awal Juli, ketika gencatan senjata antara AS dan Iran masih dipandang berpotensi bertahan, harga minyak Brent dan WTI diperdagangkan di kisaran level sebelum AS dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Sementara itu, data menunjukkan inflasi konsumen AS melambat lebih besar dari perkiraan pada Juni seiring turunnya harga energi. Meski demikian, pasar keuangan masih memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga.