Sebelum perang Iran dimulai pada 28 Februari, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur strategis tersebut.
Pernyataan tersebut menjadi indikasi terkuat sejauh ini bahwa kesepakatan yang sedang dibahas bersama Oman terkait pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz tidak serta-merta membuat jalur tersebut kembali dibuka.
Pasalnya, AS juga harus memenuhi komitmennya dalam nota kesepahaman mengenai upaya mengakhiri konflik yang disepakati Washington dan Teheran pada Juni.
Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi enam kapal pada Senin (10/8), dibandingkan rata-rata sekitar 11 kapal dalam 10 hari terakhir. Sebelum perang, lalu lintas harian di jalur tersebut rata-rata mencapai 125 hingga 140 kapal.
Di kawasan Timur Tengah lainnya, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyerang kapal Arab Saudi yang membawa peralatan militer di Bab el-Mandeb, jalur strategis antara Laut Merah dan Samudra Hindia. Informasi tersebut dilaporkan kantor berita Saba yang dikelola Houthi.