Pada Senin, AS mengumumkan apa yang disebutnya sebagai "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan langkah tersebut dapat mengurangi kebutuhan untuk melakukan operasi militer besar baru.
Sementara itu, Ebrahim Azizi, Kepala Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, menyebut sanksi tersebut sebagai "tindakan tidak manusiawi dan bermusuhan", meskipun menurutnya efektivitas sanksi tersebut telah menurun.
Perdana Menteri Qatar juga mengunjungi Teheran pada Kamis untuk mendorong dimulainya kembali pembicaraan diplomatik guna mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran, menjelang enam bulan sejak konflik tersebut dimulai.
Pejabat keamanan senior Iran Mohsen Rezaei memperingatkan bahwa Teheran akan menargetkan kepentingan militer dan ekonomi AS jika Washington melakukan "ulah" selama pembicaraan dengan pejabat Qatar.