"Inti perselisihan tetap berada pada program nuklir Iran dan persoalan tersebut kemungkinan tidak akan terselesaikan dalam waktu dekat. Iran juga memahami pentingnya posisi geografisnya serta daya tawar yang dimiliki Selat Hormuz, sehingga risiko ketidakpastian berkepanjangan masih ada," kata Head of Market Insights di Phillip Nova, Priyanka Sachdeva.
Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap harinya.
Arus pelayaran melalui selat tersebut sedikit membaik pada Rabu. Berdasarkan data Kpler, sebanyak 10 kapal komoditas melintasi jalur tersebut, meningkat dari titik terendah dalam beberapa waktu terakhir, tetapi masih di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 15 kapal.
Kapal yang keluar dari Selat Hormuz antara lain kapal tanker bahan bakar kelas medium-range, kapal tanker aspal, serta kapal pengangkut curah.
Di sisi lain, Kuwait Integrated Petroleum Industries Co yang merupakan perusahaan milik negara telah mengaktifkan kembali ketiga unit pengolahan minyak mentah di kilang Al-Zour berkapasitas 615.000 barel per hari. Per 19 Agustus, seluruh unit beroperasi pada kapasitas 60 persen, menurut konsultan IIR.