Secara terbuka, para pejabat Iran mengecam keras kemungkinan negosiasi dengan pemerintahan Trump.
Namun, keterlambatan penyampaian respons resmi kepada Pakistan, yang membawa proposal 15 poin dari Washington, memberi sinyal bahwa sebagian elite di Teheran masih mempertimbangkan opsi tersebut.
Analis perusahaan penasihat energi Ritterbusch and Associates dalam catatannya menyebut pergerakan harga minyak akan terus berfluktuasi mengikuti perkembangan perang Iran.
Gedung Putih berupaya menonjolkan kemajuan pembicaraan, sementara Iran belum mengakui adanya kemajuan sehingga membatasi potensi penurunan harga lebih lanjut.
Lonjakan volatilitas harga dalam beberapa pekan terakhir mendorong tingkat volatilitas historis kedua acuan minyak mentah ke level tertinggi sejak April 2022, berdasarkan pengukuran pergerakan penutupan 30 hari.