IDXChannel - Harga minyak dunia ditutup melemah hampir 1 persen pada Kamis (16/7/2026), tetapi masih bertahan di dekat level tertinggi sejak pertengahan Juni seiring meningkatnya eskalasi konflik Iran.
Ketegangan memanas setelah Teheran meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur ekspor minyak melalui Laut Merah.
Kontrak berjangka minyak Brent turun 0,9 persen menjadi USD84,23 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 0,8 persen menjadi USD78,95 per barel.
Pada level tertingginya di sesi perdagangan, kedua kontrak sempat menguat lebih dari 1 persen.
Analis Riset Minyak The Officials, Ed Hayden-Briffett, mengatakan pelemahan harga pada Kamis mencerminkan berkurangnya momentum kenaikan setelah minyak mencapai level tertinggi dalam satu bulan pada awal pekan ini.
Menurutnya, pelaku pasar mulai menyesuaikan kembali posisi mereka.
"Posisi investor di pasar minyak sebelumnya didominasi posisi short ketika situasi di Timur Tengah mulai memburuk pekan ini. Namun, laju kenaikan mulai melambat setelah investor yang mengalami kerugian akibat reli harga menutup sebagian posisi short mereka pada awal pekan," ujar Hayden-Briffett, dikutip Reuters.
Pada Rabu, harga Brent ditutup di level tertinggi sejak 12 Juni, sedangkan WTI mencapai level tertinggi sejak 15 Juni.
Gencatan senjata yang rapuh pada Juni kini telah runtuh, sehingga mengganggu arus distribusi energi melalui Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari.
Tiga sumber Reuters menyebut Iran telah meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur ekspor minyak di Laut Merah apabila Amerika Serikat menyerang infrastruktur kelistrikan Iran.
Pada pekan ini, Presiden AS Donald Trump kembali mengulangi ancamannya untuk menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran.
Direktur Strategi Pasar Energi StoneX, Alex Hodes, mengatakan ancaman tersebut meningkatkan risiko terganggunya dua jalur utama ekspor minyak di Timur Tengah secara bersamaan.
"Dengan Selat Hormuz yang sudah ditutup, ancaman ini meningkatkan risiko serius bahwa dua jalur utama ekspor minyak di Timur Tengah akan terganggu pada waktu yang sama," katanya.
Berdasarkan data Kpler, sekitar 7,4 juta barel minyak per hari melintasi Selat Bab el-Mandeb pada Juni atau sekitar 7 persen dari total produksi minyak global.
Angka tersebut meningkat dibandingkan 4,2 juta barel per hari pada tahun lalu.
Strategis Pasar Keuangan Exness, Wael Makarem, mengatakan gangguan bersamaan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb akan memperparah tekanan terhadap rantai pasok energi global.
"Jika gangguan terjadi secara bersamaan di Hormuz dan Bab el-Mandeb, tekanan pada rantai pasok akan meningkat signifikan, ketersediaan kapal tanker semakin terbatas, dan premi asuransi pengiriman akan melonjak," ujarnya.
Pada Rabu, AS menyerang sistem pertahanan pantai dan lokasi rudal Iran setelah kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan negara tersebut.
Sebagai respons, Teheran mengancam menghentikan lebih banyak ekspor energi dari kawasan dan menyatakan tengah menghadapi "perang untuk mempertahankan eksistensi" melawan Amerika Serikat.
Iran dan AS kembali saling melancarkan serangan yang lebih intensif pada Kamis, sehingga menopang harga minyak.
Namun, kenaikan harga tertahan setelah Iran membebaskan seorang warga negara AS, yang dinilai membuka peluang untuk mencegah pecahnya kembali perang berskala penuh.
Di sisi pasokan, ekspor minyak mentah Irak meningkat tajam.
Berdasarkan data Kpler dan sumber yang mengetahui langsung arus pengiriman tersebut, pemuatan minyak mentah Irak melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi rata-rata sekitar 1,2 juta barel per hari pada paruh pertama Juli, seiring percepatan ekspor setelah berbulan-bulan mengalami pembatasan pengiriman. (Aldo Fernando)